Sepenggal Kisah Ratapan Dalam Pengharapan
SEPENGGAL KISAH RATAPAN DALAM PENGHARAPAN
Berkat Tuhan begitu luar biasa. Namun hidup
kadang membuatku merasa tak berarti. Terlebih kisah cintaku yang
terombang-ambing oleh perbedaan pandangan seiring umur bertambah. Nama aku
Guges Bravo Muda, aku seorang yang sangat menghormati kehadiran cinta. Bagiku
itu adalah sesuatu yang sangat sulit tumbuh di dalam hati nurani manusia.
Suara gemuruh hujan menguasai hiruk pikuk kota,
menyelimuti bumi dari panas terik matahari. Sebagian orang menikmati hujan
dengan menelusuri setiap titik jatuhnya air, sebagian orang menikmati hujan
dengan menatapnya sambil meneguk segelas kopi.
Suasana
asrama di Sekolah Tinggi Perikanan siang itu begitu tenang. Beberapa rekan-rekanku
memanfaatkan suasana itu untuk beristirahat di kasurnya, dan sebagian membaca buku. Beberapa jam lalu,
seorang rekanku bernama Septian menghampiriku dan menyampaikan pesan, bahwa
salah satu teman kami kedapatan merokok di pos jaga oleh seorang Pembina Taruna.
Hal ini sangat diharamkan di kampusku. Setelah melepas baju PDH (Pakaian Dinas
Dalam), Aku dan teman ranjangku yang bernama Muzaki duduk di depan sketerku
sambil menikmati dua gelas kopi sambil bercerita. Aku mengeluhkan persoalan
rekanku kepada Muzaki.
“Zak,
saya tidak bisa tenang sekali lah. Tadi si Arif kedapatan pembina lagi merokok
di pos jaga. Aku sebagai Komandan Pleton di minta menghadap pak Andi juga Zak.
Habis aku nih !.
Zaki kemudian membenarkan tempat duduknya dan
bertanya ke saya,
“Serius
kau Ges? Wah berat urusan kalo begini. Sudah kau temui si Arif ?”.
“Iya
Zak serius aku. nanti setelah apel malam saja aku temui dia, sekalian menghadap
pak Andi”. Jawab Saya.
“Ya
sudah, kau nikmati dulu kopinya Ges, pasti ada jalannya sebentar, mudah-mudahan
hukumannya tidak terlalu berat. Kasihan juga kau, begitulah belajar menjadi pemimpin,
kau bertanggungjawab kalau rekanmu melanggar”.
“Itulah
Zak. Nggak apa-apa, pelajaran buat aku untuk lebih perhatian ke rekan-rekan”.
Jawabku sambil meneguk kopi.
Kami
berdua pun terus menyeruput kopi hingga habis sambil menunggu hujan reda.
***
Setelah Apel malam selesai, Aku bergegas
menemui Arif. Ternyata Arif sudah lebih dulu berjalan menuju ruang pembinaan
untuk mengahadap pak Andi. Aku berlari kecil menghampirinya.
“Rif,
kau mau mengadap pak Andi kah?”, Tanya saya.
“Iya
Ges, aku minta maaf, tadi aku mau menghadap kau dulu, tapi aku rasa bersalah
sekali Ges.”
“Nggak
apa-apa Rif, kelamaan juga kalau kita diskusi, lebih baik mengahadap saja
dulu”, Jawab saya.
“Kau
pasti di suruh mengahadap juga ya?”.
“Iya
Rif, si Septian datang kabari aku tadi, katanya pak Andi minta kau dan aku
mengahadap”, Jawab saya.
“Maaf
banget Guges, Aku nyesal banget”.
“Nggak
apa-apa, yang penting kau tanggung jawab perbuatanmu. Ini salah aku juga tidak
mengingatkan kau”. Jawab aku lagi.
Kami pun menuju ruang pembinaan untuk
mengahadap. Ada rasa takut, malu, campur aduk perasaanku. Berharap hukumannya
tidak berat. Begitu sampai di depan ruangan ketarunaan, Aku mengetuk pintu sambil
mengucapkan salam dan meperkenalkan diri. Tidak butuh waktu lama, pak Andi
membuka pintu dan mempersilahkan kami masuk. Pak Andi kemudian menyuruh kami
berdiri dalam sikap siap dan menanyakan ke aku soal si Arif.
“Kau
penanggungjawab nya dek?”
“Siap
Bang”, Jawab saya spontan
“Kau
sudah dengar rekanmumu lakukan pelanggaran?”, Tanya Pak Andi lagi.
“Siap
salah bang. Saya sudah dengar. Saya tanggung jawab bang.”, Jawab saya.
“Tadi
si Arif sudah saya kasih punishment, sekarang kau harus saya hukum juga karna
si Arif tanggung jawabmu”.
“Siap
bang”. Jawab saya dengan lantang.
“Kau
ambil jatah 200 repetisi push up”, Tegas pak Andi.
“Siap”,
Jawab saya sembari mengambil posisi push up dan mulai menghitung.
“Arif
kau lihat si Guges, kalau kau buat pelanggaran, dia akan kena sanksinya
walalupun bukan dia yang melakukan, ini bentuk tanggung jawabnya sebagai pemimpin”,
Pak Andi menjelaskan ke Arif.
“Siap
salah bang. Ijinkan sy menggantikan hukuman itu bang. Kasihan Danton saya pak”,
Jawab Arif sembari meminta agar saya tidak di hukum.
“Tidak,
kalau kau kasihan sama si Guges, lain kali kau jangan buat pelanggaran. Belajar
untuk tidak apatis ya Rif”, Tegas pak Andi.
“Siap
Bang”, Jawab Arif penuh penyesalan.
Aku
menyelesaikan hukuman itu dan kemudian di suruh berdiri oleh pak Andi. Pegal
sekali tanganku, sangat melelahkan. Namun aku bangga bisa betanggung jawab
dengan baik.
“Guges,
kau harus lebih perhatian ke rekan-rekanmu, kalo rekan-rekanmu minim
pelanggaran, berati kamu sukses jadi Danton”, Ucap pak Andi.
“Siap
bang, saya berusaha semampu saya bang”, Jawab aku.
“Baiklah,
kalian boleh kembali ke asrama” Perintah pak Andi.
Aku
dan Arif serentak menjawab,”Siap bang, Ijin kembali ke asrama”
Aku
dan Arif pun keluar dari ruang pembinaan dan menuju ke barak kami, di
perjalanan pulang, aku menyempatkan untuk memberitahu si Arif untuk tidak
melakukan pelanggaran lagi, dan Arif pun menerima pesanku dengan sangat baik.
***
Sekitar jam sebelas malam, aku mengambil
handphone untuk menghubungi kekasihku. Kebiasaan yang sudah di bangun sejak
Tiga tahun lebih lamanya untuk berkabar di saat waktu sudah santai. Kekasihku
sudah bekerja setelah menyelesaikan kuliahnya. Sedangkan Aku, kemungkinan bisa
selesaikan kuliahku di Tahun ini.
Sambil
berbaring di ranjangku, aku menelepon pacarku.
“Halo
selamat malam nona”, sapa saya.
“Malam
juga Ges”
“Bagaimana
hari ini, Aman?”, Tanya saya.
“Aman,
bagaimana juga kabar hari ini?”
“Baik
juga nona, hanya ada sedikit problem tadi”, Jawab saya.
Malam
ini terasa tidak seperti biasanya. Pacarku selalu antusias saat menerima
teleponku, apalagi saat ia tau aku sedang menghadapi masalah. Namun malam ini
ia seperti tidak menggubris aduanku dengan menanyakan hal-hal lain, seperti
sedang mencari waktu yang pas untuk menyampaikan sesuatu.
“Bagaimana
skripsimu Ges, sudah beres?”
“Masih
sementara dikerjakan nona, banyak kesulitan”, Jawab saya.
“Kapan
bisa selesai skripsimu?”
“Doakan
supaya bisa selesai secepatnya ya”, jawab saya singkat tanpa membuat janji.
“Kalau
sudah selesai urusan skripsimu di kampus, kabari aku ya, ada yang mau aku
bicarakan soal hubungan kita”.
Sontak saja perasaanku tidak enakan, sepertinya
ada hal penting yang ingin dibicarakan yang mungkin saja ini sebuah masalah
yang lebih besar yang menimpaku. Beberapa minggu yang lalu, pacarku pernah
berbicara kepadaku kalau keluarganya meminta pacarku untuk mengakhiri
hubungannya denganku, terlebih khusus kakak laki-laki pertamanya. Keluarganya
meragukan kalau aku mampu memperisapkan materi dan uang yang cukup untuk
menikahinya dalam waktu dekat, ditambah lagi usia pacarku semakin bertambah.
Namun aku mampu menahannya untuk tidak meninggalkan aku dengan memberinya
sedikit pemahaman soal perjuanganku.
Tetapi
saat ini aku memberanikan diri untuk memaksanya bicara lagi, agar semuanya bisa
di cari solusinya.
“Apa
yang mau nona sampaikan?”, Tanya saya.
“Waktunya
belum pas Ges. Bisa mengganggu kuliahmu kalau aku bicarakan sekarang”.
“Tidak
apa-apa nona, kasihan nona kalau harus menyimpan ketidakpuasan”, Jawab saya
meyakinkannya.
“Gimana
ya, Guges apa kamu yakin kita berjodoh? Aku begitu sulit harus hidup dengan
menentang orang tua dan kakakku. Tapi aku sangat mencintaimu Ges”
Mendengar kalimat itu, air mataku
mulai menetes perlahan. Aku berusaha menenangkan diri agar tidak salah dalam
berbicara. Setelah beberapa detik mengambil ketenangan, aku mulai
menanggapinya,
“Nona,
baru beberapa minggu kamu sampaikan ke saya soal keraguan keluargamu. Tidak
mungkin dalam waktu dekat aku bisa membuktikan diriku”, Jawab saya dengan suara
sendu.
“Maaf
Ges, aku tidak bermaksud membuatmu bersedih. Aku hanya ingin ada sebuah
kekuatan yang muncul untuk keyakinanku sama kamu Ges. aku merasa tak nyaman
ketika di rumah. Aku terbebani karena mereka yang sudah berkorban banyak untuk
aku Ges”.
“Nona,
bersabarlah dalam beberapa bulan kemudian. Berdoalah”, Ucap saya penuh harapan.
“Aku
bingung Ges. Aku takut kita tidak berjodoh”.
“Nona,
aku mohon. aku masih berproses. Tidak semua orang punya jalan cerita yang
mulus. Aku hanya belum menyelesaikan kuliahku. Kita hanya butuh waktu nona”,
Jawab saya sembari menangis tersedu-sedu.
“Aku
tak tahu mau bicara apa lagi Ges. Sulit sekali bersitenggang dengan keluargaku,
Tapi aku berusaha yang terbaik ya”. Ucap pacarku sambil menangis tersedu-sedu
Setelah pacarku mengucapkan kalimat yang
semakin membuatku hancur, ia kemudian mematikan telepon. Di tengah kesunyian
malam, aku terus menangisi nasibku. Aku bangun dari tempat tidur dan kemudian
berdoa kepada Tuhan agar Tuhan menguatkan hatiku. Malam itu sungguh menakutkan.
Hatiku penuh dengan kegelapan, kabut tebal menghalangi mata batinku, dengungan
maut mengahatuiku. Rasanya ingin mati saja agar aku tak menyaksikan kekejaman
dunia yang mengerikan.
Sejak peristiwa malam itu, kekasihku sangat
jarang menghubungiku, jarang sekali mengangkat teleponku, sungguh menyedihkan.
Namun aku tak pernah berfikir negative padanya. Ia pasti dalam keadaan yang
juga tak baik-baik saja, sama seperti diriku. Di dalam suasana hatiku yang tak
karuan aku terus berdoa, berharap Tuhan memberikan aku kekuatan. Aku kuatkan
mentalku, menata kembali perasaanku perlahan untuk bangkit dan berjuang demi
kekasihku yang juga sedang tak baik-baik saja. Aku akan terus berjuang,
memanfaatkan waktu yang ada hingga dikemudian hari aku boleh memperoleh rejeki
dari Tuhan, agar aku bisa meyakinkan keluarga kekasihku dan menemui kekasihku dalam
keadaan yang sehat wal’afiat dengan senyuman bangganya akan kuatnya aku
menantang dunia yang kejam. Semoga ia tetap mejadi kekasihku yang sama dan masih
menungguku. Semoga Tuhan merestui perjuanganku yang penuh harapan.
***
Satu Tahun kemudian, Aku berhasil menyelesaikan
kuliahku dan penempatan tugas di Dinas Perikanan daerah. Kini perjuanganku
telah berkahir manis. Hatiku tak begitu puas, orang tuaku tak bisa ke hari
wisudaku karena tak cukup biaya. Di saat
itu juga aku teringat kekasihku. Aku berpikir, saatnya aku menemui kekasihku
dan melamarnya, mudah-mudahan kekasihku masih menungguku. Aku tidak membutuhkan
kado untuk keberhasilanku, sebaliknya keberhasilanku menjadi kado buat kedua
orang tuaku dan juga kekasihku. Sungguh hari ini adalah hari yang penuh
senyuman, namun juga dibaluti sebuah harapan cintaku yang belum kutemukan
jawabannya.
Penulis, Apolonaris
S.B.O. Muda (Goresan
sementara)

Komentar
Posting Komentar