Pengalaman Pahit Seorang Anak

 

PENGALAMAN PAHIT SEORANG ANAK

S

uasana sore itu cukup sepi, langit terlihat mendung dan rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi. Ibuku sedang menyiapkan makanan di dapur. Beberapa anak kecil yang sedang bermain di depan halaman rumahku berlari ke rumahnya masing-masing. Aku duduk di teras rumah, menikmati segelas kopi sambil membaca koran milik ayah. Tiba-tiba ayahku yang baru saja tiba dari kebun, mengampiriku dan mengatakan kalau tadi ayah lupa memberi makan kambing di kebun karena terburu-buru. Ayahpun memintaku untuk pergi ke kebun dan memberi makan kambing.

“Yudi, tadi ayah sudah mengumpulkan rumput untuk kambing makan, tapi Ayah lupa kasihkan ke kambing karena buru-buru pulang. Ayah nanti malam ada kegiatan musyawarah di rumah pak RT”.

“Wah, kasihan kambingnya ayah. Ya sudah biar aku ke sana”, Jawabku mengiyakan perintah ayah.

“Terima kasih nak, hati-hati ya”.

Akupun bergegas mengambil jaket dan sandalku untuk berangkat ke kebun sebelum hujan semakin besar. Tiba-tiba Ibuku datang dan menyampaikan pesan yang membuat aku cukup ragu ke kebun. Selama ini aku tidak pernah berada di kebun sampai hari gelap.

“Yudi, kamu hati-hati ya nak. Setelah selesai memberi makan kambing, kamu langsung segera balik ya, jangan sampai lewat jam Tujuh malam”.

“Memangnya kenapa bu?”, aku bertanya kebingungan

“Ibu dengar ada orang di kampung kita yang di kejar oleh orang tak di kenal di hutan pinus kemarin malam”

Hutan pinus tepat berada dekat dengan kebun keluargaku, kira-kira 500 meter jaraknya. Hal itu tentu membuatku sedikit katakutan. Namun aku berpikir, mungkin itu kebetulan saja. Aku pun kembali bertanya kepada ibuku.

“Lalu bagaimana bu, jangan sampai kabar itu benar terjadi bu?”,

“Tidak apa-apa nak, yang penting kamu jangan balik ke rumah terlalu gelap ya”.

“Baik bu”. Jawabku sembari menutup kepala dengan topi jaketku dan bergegas menuju ke kebun.

Aku berjalan setengah berlari agar tiba di kebun secepatnya dan kembali sebelum gelap sesuai pesan ibuku. Di perjalanan, suasananya sangat sepi. Aku tidak bertemu siapapun di jalan. Aku mengambil jalur pintas dengan menyusuri hutan. Setibanya di kebun, aku bergegas mengambil tumpukan rumput yang sudah disiapkan ayahku dan langsung memerikannya ke kambing peliharaan kami. Kami memiliki empat ekor kambing yang sudah lumayan besar. Setelah mengikat rumput kambing di dalam kandang, aku bergegas menutup pintu kandang dan kembali ke rumah. Aku kembali menyusuri hutan pinus sebagai jalan pintas sambil berlari-lari kecil. Di tengah perjalanan, tiba-tiba hujan turun begitu lebat di sertai angin yang kencang. Akupun berlari semakin kencang. Ketika tiba di jalan raya, aku kemudian melihat ada gubuk kecil yang dulu merupakan tempat jualan seorang nenek yang dua bulan lalu telah meninggal dunia. Aku bergegas menuju gubuk itu untuk berteduh. Gubuk itu memiliki dinding yang terbuat dari kulit gedek dan beratap alang-alang. Akupun berdiri menyandar di dinding sembari merapikan celanaku. Suasana saat itu sudah gelap. Aku tidak begitu tau saat itu jam menunjukkan pukul berapa, karena aku tak membawa jam tanganku. Karena sudah keluar dari hutan pinus, aku berpikir bahwa keadaan akan baik-baik saja.

Hujan tak juga reda, sebaliknya semakin lebat. Kira-kira sudah hampir sepuluh menit lamanya aku berteduh. Saat aku sedang melamun menatap hujan, tiba aku mendengar suara kaki mendekat dari arah belakang gubuk. Aku semakin fokuskan pendegaranku ke suara kaki yang aku dengar. Suara itu semakin mendekat namun semakin lambat. Aku kemudian kemudian melangkah kecil ke arah sudut gubuk untuk melihat siapa yang datang. Mungkin saja itu orang yang juga ingin berteduh sepertiku. Aku kemudian secara perlahan mengintip ke arah belakang gubuk. Aku sangat terkejut ketika melihat ada seorang pria paruh baya bertelanjang dada yang memiliki gestur tubuh tak wajar, dengan sebilah pisau di tangan kirinya. Aku teringat pesan ibuku. Aku sangat ketakutan, apakah mungkin ini adalah orang yang kemarin mengejar salah seorang warga di kampungku kamarin malam, seperti yang dikatakan ibuku. Aku kemudian kembali memberanikan diri mengintipnya lagi. Aku semakin ketakutan ketika melihat pria paruh baya itu menikam-nikam dinding gubuk dengan teriakan-teriakan yang diakhiri dengan tertawa yang sangat aneh. Aku berharap agar pria itu tidak datang ke arahku, aku berusaha bersembunyi sambil meperhatikan gerak-gerik pria itu. Tiba-tiba hal yang tak aku duga terjadi. Pria itu menoleh ke arahku. Aku cepat-cepat menyembunyikan diri agar ia tak melihatku. Namun hatiku begitu tak karuan ketika mendengar langkah kakinya mendekat ke arahku. Aku sangat kebingungan. Disaat aku sedang berpikir harus melakukan apa, tiba-tiba ia sudah di sebelahku yang hanya berjarak dua meter dan berteriak dengan kencang kepada ku, aku terkejut bukan main. Aku sangat ketakutan. Wajahnya penuh kemarahan, seperti ingin menghabisiku. Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari sekencang mungkin ke arah yang tak beraturan. Pria paruh baya itu mengejarku dengan sangat ganas sambil berteriak, “Mati kau”. Teriakan itu sangat membuatku tak lagi berpikir normal. Aku terus berlari sambil berteriak minta tolong. Aku berlari masuk ke dalam hutan dan mencari tempat persembunyian. Aku melihat ada pohon besar yang cukup tinggi di depanku. Tanpa berpikir panjang, aku pun memanjat pohon itu dan bersembunyi di atas. Kini pria itu tetap berada di bawah pohon tempat persembunyianku. Pria itu berteriak sambil mencariku.

“Dimana kamu anak kecil. Aku makan jantungmu kalau ketemu”, teriak pria itu penuh amarah.

Aku sangat ketakutan di atas pohon sambil berdoa. Berharap agar pria itu tak menemukanku. Beberapa saat pria itu pergi menuju kedalam hutan. Hatiku cukup lega. Pria itu tak mengetahui keberadaanku. Namun aku tak berani turun dari pohon itu. Aku takut pria menakutkan itu menemuiku. Aku tetap di atas pohon sambil menangis ketakutan sambil memanggil ayah dan ibuku dengan suara kecil. Sungguh hal itu mmbuatku trauma, aku merasakan ketakutan yang luar biasa.

            Beberapa menit menit kemudian pria itu kembali melewati tempat persembunyianku sambil teriak-teriak tidak jelas. Namun ia hanya lewat di bawah pohon tempatku bersembunyi. Aku semakin tak berani turun dari pohon. Hampir tengah malam, aku terus menangis ketakutan di atas pohon. Aku berpikir pasti ayah dan ibuku sangat menghawatirkan aku. Namun aku tak berani keluar dari persembunyianku. Aku memutuskan kembali ke rumah besok pagi. Tiba-tiba aku mendegar suara orang memanggil namaku.

“Yudi, yudi, dimana kamu nak?”

Aku mengenal sekali suara itu, itu suara ayahku. Aku kemudian berteriak dengan suara yang kencang.

“Ayah, aku di sini ayah, aku takut ayah”.

Sontak saja beberapa orang datang ke arahku. Aku melihat ada ayahku dan beberapa warga kampung dengan obor di tangannya. Hatiku begitu tenang. Aku mengucap syukur kepada Tuhan karena sudah melindungiku dari maut. Aku pun bergegas turun dari pohon dan berlari ke ayahku dan langsung memeluk ayahku sambil menangais.

“Kamu kenapa di atas pohon nak?. Ayah, ibu dan warga kampung mengkhawatirkanmu”, Ayahku bertannya.

“Ayah, tadi aku kehujanan. Aku berteduh di gubuk nenek di pinggir jalan yang sudah meninggal dua bulan lalu, tiba-tiba ada seorang pria paruh baya mengejarku dengan pisau. Dia seperti ingin membunuhku. Makanya aku bersembunyi di atas pohon”, aku menjelaskan ke ayahku peristiwa tadi.

Ayahku merasa sangat bersalah karena menyuruhku ke kebun. Ayah lupa ada kejadian yang sama kemarin malam yang di alami salah seorang warga. Ayah baru menyadari itu ketika musyawarah di rumah pak RT, saat membicarakan masalah kemarin sore yang sama dengan yang aku alami.

Ayah pun membawa aku kembali ke rumah. Ibuku memelukku sambil menangis. Mereka tidak berani bertanya-tanya terlalu banyak kepadaku. Mereka memahami psikologiku. Tetapi pak RT berjanji akan selesaikan masalah itu.

***

 SELESAI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebesaran Hati Boby

Berbicara Ringan tentang Cinta

Sepenggal Kisah Ratapan Dalam Pengharapan