Ibuku Seorang Pembohong
IBUKU SEORANG PEMBOHONG
Oleh : Apolonaris S.B.O. Muda, @rizmuda
Nama aku Tari. Aku berusia 14 tahun dan
sekarang aku duduk di kelas 8. Aku berasal dari keluarga sederhana, boleh
dibilang aku dari keluarga berkekurangan, padahal ayahku bekerja sebagai
seorang guru. Sedangkan ibuku seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari
berjualan di kantin yang berada di sekolah tempat ayahku bekerja. Aku anak
paling bungsu. Aku punya dua orang kakak, kak Sandy dan kak Lia. Kedua kakakku
sedang menepuh pendidikan di tanah Jawa sebagai mahasiswa, sehingga aku hidup
bertiga dengan ibu dan ayah di rumah. Ibuku adalah seorang wanita yang berwatak
keras dan penuh semangat. Aku tidak begitu senang dengan ibuku, karena aku
selalu di marahi. Uang jajanku tidak sebanyak teman-teman di sekolahku. Bahkan
baju seragam dan sepatuku, bekas seragam dan sepatu yang pernah di pakai kak
Lia waktu masih SMP. Saat aku meminta dibelikan baju seragam yang baru, ibuku
selalu memarahiku dan mengatakan baju seragam kak Lia masih bisa di pakai.
Ayahku tidak berani melarang ibu memarahiku. Aku berpikir, aku anak bungsu dan
pasti aku akan di manjakan. Namun ternyata semuanya salah. Ibu mendidik aku
sangat keras.
Suatu hari sebelum berangkat ke
sekolah, aku menghampiri ibu dan menyampaikan kalau sepatu aku sudah sobek di
bagian depan. Aku berharap ibu akan membelikan aku sepatu baru. Karena uang
ayah di pegang sama ibu, jadi aku tidak bisa meminta ayah untuk membelikan aku
sepatu. Setiap aku meminta ke ayah, ayah selalu bilang untuk memintanya ke ibu
karena semua uang ayah, ibu yang menyimpan.
“Ibu, sepatuku rusak”, ucapku sambil
menunjukkan sepatuku.
“Kenapa bisa rusak?”.
“Kan sepatu ini sudah lama bu. Dari
waktu kak Lia masih SMP”.
“Pakai saja dulu, nanti pulang sekolah
ibu lem”.
Aku
sangat kesal. Ibu ingin memperbaiki sepatuku. Berarti aku tidak dibelikan
sepatu baru. Tiba-tiba ayah menghampiriku dan mengusap kepalaku sambil
menasehati aku :
“Tari, ikuti saja apa yang ibumu
bilang”.
“Tapikan sepatu aku rusak ayah”,
jawabku mengeluh.
“Nantikan di perbaiki sama ibu”.
“Iya ayah, tapi kenapa tidak beli
sepatu yang baru saja?, kan selama di SMP, aku tidak pernah di belikan sepatu
baru. Selalu saja pakai punyak kak Lia”
“Nanti kalau sudah ada uangnya,
pasti ibu belikan”.
“Ayah kan guru, masa tidak punya uang.
Ibu egois, semua uang ayah di ambil ibu”, ucapku kesal.
“Uang ayah hanya sedikit Tari”, jawab
ayahku menenangkan.
Perasaanku
sangat kesal. Ayah tak bisa berbuat banyak. Karena terpaksa, aku akhirnya
memakai sepatu rusak itu ke sekolah. Ibuku selalu mengantarku ke sekolahku
terlebih dahulu, setelahnya baru ibu ke sekolah ayah untuk berjualan.
Setibanya di sekolah, perasaanku sangat
kacau. Aku takut teman-temanku memperhatikan aku dan melihat sepatuku. Setelah
turun dari motor, aku tidak menyalami ibuku karena kesal dan langsung berlari
ke gerbang sekolah tanpa menoleh ke ibu. Aku berjalan dengan cepat sambil
menunduk. Tiba-tiba terjadilah peristiwa yang membuatku sangat malu. Suara itu
sangat jelas :
“Tari, sepatumu seperti mulut kerbau”.
Seorang
teman kelasku mengatakan itu sambil tertawa dengan keras. Sontak semua mata menatapku
sambil menertawakanku. Aku sangat malu. Aku tidak melanjutkan langkahku dan
tetap berdiri sambil menunduk. Tidak terasa air mataku mulai menetes. Karena
malu dan sedih, aku pun membalikkan badan dan berlari kembali ke gerbang
sekolah. Aku memutuskan untuk pulang kembali ke rumah dengan menumpangi angkot.
Setibanya di rumah, aku langsung naik ke tempat tidur dan menangis. Ayah dan
ibu sedang di sekolah sehingga aku sendirian di rumah. Hari itu suasana hatiku
sangat tidak baik. Aku tidak menerima kenyataan keluargaku yang susah, di
tambah lagi ibuku tidak pernah memanjakanku.
***
Sekitar jam satu siang, aku mendengar
suara motor ibuku. Setelah membuka pintu, ibu memanggiku dengan nada keras.
Sepertinya ibu sedang marah padaku karena aku tidak ikut ujian hari. Biasanya
ibu menjemputku ke sekolah sebelum kembali ke rumah. Pasti ibu mencariku di
sekolah, dan guruku memberitahu ibu kalau aku tidak masuk.
“Tari, Tari”
“Iya bu”, jawabku sambil menghampiri
ibu.
“Kamu kemana tadi?, kenapa kamu tidak
ikut ujian hari ini?”
“Aku pulang ke rumah bu. Aku malu semua
teman-teman mengejekku”.
“Karena sepatumu?”.
“Iya bu. Apalagi kalau bukan itu”.
“Siapa yang mengejekmu?, besok ibu sampaikan
ke gurumu.
“Tidak usah bu. Semua ini karena ibu.
Ibu pelit. Ibu jahat”, ucapku dengan suara keras sambil menangis.
Tiba-tiba
raut wajah ibuku berubah. Bukannya marah, ibu malah seperti terpukul dan merasa
bersalah. Ibu mendekatiku dan berusaha memelukku. Tapi aku menepis tangan ibu
dan mundur beberapa langkah.
“Tari, ibu minta maaf. Tapikan
ibu janji benerin sepatu kamu”.
“Perbaiki saja terus bu. Nanti rusak
lagi, dan teman-teman menertawakanku. Itukan yang ibu mau”, ucapku penuh kesal.
Ibuku
tidak lagi menjawabku. Aku mengangkat kepala dan melihat ibu. Aku melihat ibu
menangis di hadapanku.
“Ibu selalu saja memberikanku barang
bekas kak Lia. Semua uang ayah ibu ambil. Ibu tidak sayang aku”. ucapku lagi
sambil berlari ke kamar dan mengunci pintu.
Aku
duduk di kaki tempat tidur sambil menangis. Namun aku merasa bersalah karena
telah bersuara keras ke ibu. Tetapi aku juga merasa kesal karena ibu tidak
membelikan aku sepatu baru, akhirnya aku di permalukan teman-temanku.
***
Suasana rumah sore itu sangat sepi. Aku
sejak tadi siang hanya di dalam kamar. Aku merasa bersalah karena telah
memarahi ibuku. Hal yang tidak pernah aku lakukan selama ini. Apalagi melihat
ibu menangis didepanku. Aku pun beranjak dari tempat tidur dan keluar dari
kamar. Aku mendengar suara ibu seperti sedang berbicara dengan seseorang di
dalam kamar ibu. Akupun mengintip dan menguping dari balik pintu. Aku mendengar
suara kak Lia di sana. Ternyata ibu sedang telfonan dengan kak Lia. Kak Lia
menelpon ibu dan mengatakan kalau kak Lia sedang kekurangan uang makan dan uang
untuk membayar biaya kuliahnya yang semakin mahal. Sehabis berbicara dengan kak
Lia, beberapa menit kemudiam kak Sandy menelpon ibu dan mengatakan hal yang
sama. Ibupun berjanji akan menyiapkan uangnya dalam waktu dekat. Hal itu
membuatku semakin merasa bersalah. Aku menyadari kalau selama ini uang ayah
yang di simpan ibu, di siapkan untuk kebutuhan kakak-kakakku. Untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari, ibu berjualan di sekolahan ayah. Aku menyadari ternyata
hal ini yang membuat keluargaku berkekurangan walaupun ayah bekerja sebagai
guru. Ibu tidak mengambil uang ayah. Ibu menyimpannya untuk biaya kuliah
kakak-kakakku. Akupun memberanikan diri masuk ke dalam kamar dan memeluk ibu
dari belakang.
“Ibu, Tari minta maaf. Tari sayang
Ibu”, ucapku sambil menagis.
Ibu
kaget dan menoleh ke arahku sambil tersenyum. Lalu ibu mengganti posisinya dan
memelukku sambil meminta maaf kepadaku.
“Tidak apa-apa nak. Ibu juga
minta maaf ya”, ucap ibu sembari mencium keningku.
“Aku menyesal. Karena aku, ibu
menangis”, seruku sambil memeluk ibu lagi.
Aku
menagis sambil memeluk ibu. Tiba-tiba ibu melepas pelukanku dan menyuruhku
menunggu beberapa menit. Ibu kemudian membuka lemari dan mengambil sesatu. Ibu
membawa barang itu kehadapanku dan membukanya secara perlahan. Aku
bertanya-tanya dalam hati, apa barang yang ada dalam bungkusan plastik itu.
Hatiku begitu senang bercampur haru, juga merasa iba kepada ibu. Ternyata itu
adalah sepatu baru yang ibu belikan tadi siang sebelum pulang ke rumah.
“Ini nak, tadi ibu singgah ke
pasar membeli sepatumu”, ucap ibu sembari mengusap kepalaku.
Aku
tidak mengucapkan apapun. Aku sebenarnya sangat senang, tetapi hatiku iba
kepada ibu. Ibu membohongiku dengan selalu berlaku keras padaku seolah tak
menyayangiku. Ternyata ibu bermaksud agar aku tumbuh menjadi wanita yang kuat
dan Ibu dan ayah sedang kesusahan biaya kuliah kakak-kakakku. Dan pastinya, ibu sangat menyayangiku. Karena itu, ibu menangis.
***
BIONARASI
Ris.
Tiga huruf yang menjadi nama panggilanku. Aku berasal dari pulau Adonara yang
berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sebagai pria berusia 24 Tahun, aku
selalu berpikir tentang siapa diriku sebenarnya. Hingga saat ini, aku merasa
belum menemukan jati diriku, padahal saat ini aku sudah menempuh pendidikan
tinggi di Universitas Nusa Cendana dalam program pascrasarjana. Dunia beberapa
kali mengambil kebahagiaan dalam hidupku seperti Impianku menjadi seorang
prajurit TNI dan Bahkan, cintaku pergi karena keadaanku yang belum mapan, di
tambah lagi efek tekanan psikologiku membuat aku tidak selalu berbicara dengan
baik. Namun, hal itu membuat aku sadar bahwa aku tidak perlu terlalu banyak
mempelajari diriku apalagi menyesali kegagalanku. Karena itu membuatku tidak
mampu berbuat banyak untuk orang-orang di sekitarku. Mungkin hal itu yang
membuatku gagal dalam cita-cita dan cinta. Kemudian aku berpikir, aku harus
memulai hidupku dengan melakukan hal-hal bermanfaat dengan kemapuan yang aku
miliki. Termasuk dengan menulis, sekaligus membagikan cerita hidupku dengan
orang lain. Agar orang-orang membaca, agar orang-orang berpikir dan agar orang-orang
pada akhrinya menulis. Dan dengan ini, aku akan muali membentuk jati diriku. Mungkin
setelah itu, aku akan tumbuh dengan sebuah keyakinan akan rencana Tuhan
menghadirkan aku di dunia. Aku yakin sekali, aku sangat berharga di mata Tuhan.

Cerita ini mengandung bawang 🥺
BalasHapusHehe siap... Terima kasih sdh singgah membaca🙏
Hapus