Mungkin Akan Ku Namai Risno

 

MUNGKIN AKAN KUNAMAI RISNO

Oleh : Apolonaris S.B.O. Muda


Rindu adalah ungkapan cinta yang mucul dari hati, yang kemudian menggunakan akal untuk memikirkan cara bertemu dan pada akhirnya, mata menjadi sang penentu lahirnya senyuman kebahagiaan karena telah menemukan apa yang kita rindukan. Kerinduan paling menyesakkan dada adalah ketika kita merindukan, namun akan mustahil betemu dengan cara apapun. Itulah yang aku rasakan ketika sahabatku sejak kecil meninggal dunia pada Tahun 2018 silam. Kami pertama kali bertemu saat masuk SMP di pulau Sumba pada Tahun 2009. Anak laki-laki tampan itu bernama Risno, dengan pribadi yang ceria dan gemar bercanda, sama dengan diriku. Sama-sama berasal dari daratan Flores, namun kami berbeda alasan berada di tanah sumba. Aku mengikuti ayahku yang tugas di Sumba sebagai seorang guru, sedangkan Risno ke sumba mengikuti adik ibunya agar ia bisa bersekolah. Sebab, keadaan ekonomi orang tuanya membuat Risno hampir saja tidak mendapatkan haknya untuk bisa belajar. Suatu waktu, aku dan Risno membaca sebuah kutipan dalam sebuah koran berita pendidikan yang membuat kami sangat bersemangat untuk bersekolah dan menggapai impian kami. Tulisan itu menjelaskan tentang bunyi Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 ayat 2, menjelaskan bahwa setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dan pemerintah wajib membiayainya. Kami pun yakin dengan cita-cita kami dan betekad menggapainya.

Tahun 2015, kami sama-sama lulus dari SMK dan melanjutkan pendidikan kami ke perguruan tinggi. Aku berkuliah di Jakarta, sedangkan Risno berkuliah di Makassar. Disana Risno mengambil jurusan ekonomi dengan motivasi untuk mengangkat derajat ekonomi keluarganya. Begitulah alasannya ketika aku bertanya mengapa ia memilih jurusan itu.  Sahabatku itu memiliki latar belakang keluarga yang tidak mampu. Nanum semangatnya untuk bersekolah sungguh luar biasa. Saat sudah di Jakarta, aku menelponnya dan menanyakan bagaimana rencana kuliahnya. Risno tertawa kecil dan mengatakan bahwa ia tetap kuliah, walaupun biaya kuliah sangat mahal bagi kalangan bawah seperti mereka. Untuk mendapatkan uang, ia harus berjualan rokok di pelabuhan kapal dan di terminal-terminal bus demi uang kuliahnya. Ketika berkabar dengannya aku sering sekali menangis karena mendengar ceritanya itu. Aku selalu berdoa kepada Tuhan agar sahabatku itu tumbuh menjadi orang yang sukses di kemudian hari. Saat menginjak semester enam di awal Tahun 2018, Risno mengatakan kepadaku lewat telepon kalau ia sangat merindukanku. Ia ingin mengajakku bertemu dan membuka warung kopi yang elegan setelah menyelesaikan kuliah kami. Dengan senang hati aku antusias akan hal itu. Sejak itu kami menjuluki diri kami sebagai calon sarjana warung kopi.

Tibalah sebuah kabar yang menyakitkan tepatnya pada tanggal 18 April 2018, Risno sahabatku telah berpulang kepada yang maha kuasa. Ia menghembuskan nafas terakhirnya setelah tidak sanggup menahan rasa sakit di dalam tubuhnya. Rasa sakit itu muncul karena selama tiga tahun ia tidak punya cukup waktu untuk istirahat. Ia harus bekerja diluar jam kuliahnya demi mendapatkan uang untuk bisa menggapai impiannya memiliki warung kopi yang modern. Hingga pada akhirnya setelah pulang berjualan rokok, ia mengalami kecelakaan yang cukup parah, yang membuat ia tidak mampu lagi menanggung semua penyakit dalam tubuhnya. Keberadaanku yang sangat jauh darinya membuatku tidak bisa berbuat apa-apa selain menangisi peristiwa duka itu. Baru satu bulan yang lalu kami janjian bertemu di Sumba saat liburan semester, sekalian membahas rencana bisnis kecil-kecilan kami itu. Namun Tuhan berkendak lain, sahabatku itu harus membangun usaha warung kopinya tanpa aku di alam yang berbeda. Mungkin tidak ada tempat strategis baginya di dunia untuk membangun usaha warung kopinya, sehingga Tuhan memanggilnya dan memberikannya lahan usaha di surga. Atau mungkin Tuhan iba kepadanya yang dengan susah payah menjalani hidupnya demi impiannya, sehingga Tuhan memintanya beristirahat untuk selamanya dari dunia dan mengabulkan impiannya di surga. Aku tidak begitu tahu dengan pasti, namun bagiku kehilangan Risno adalah sesuatu yang menyakitkan dalam hidupku. Tetapi akupun tahu, tangisanku sejak tiga tahun lalu melihat Risno yang susah payah berjuang demi uang kuliahnya, akan berakhir dalam waktu dekat. Maka hal yang aku lakukan, yang pertama adalah dengan terus mendoakan keselamatan jiwanya di setiap ujud doaku. Kedua, mencari dan merobek sebuah koran yang berisikan kabar manis tentang sekolah gratis yang telah menipu kami waktu itu dan yang terakhir adalah kembali bermimpi membuat usaha warung kopi. Mungkin akan kunamai saja Risno.

***

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebesaran Hati Boby

Berbicara Ringan tentang Cinta

Sepenggal Kisah Ratapan Dalam Pengharapan