Lentera Bangsa

 

PAHLAWAN

Dentuman peluruh menggerumuh di alam jagat

Ia merangkak tersungkur sujud bertikar bumi kelahiran

Tidak berdaya menegak leher dan bola mata menyorot

Ternyata timah panas terbelakang menutup serangannya

Tuk bersiap siaga dari dentam bedil pelindung detakan jantung

 

Bagai si macan tua kehausan sepotong daging berdarah

Seribu satu perlawanan kocak beradu aksi mengganas

Pandangan mata memerah biji saga ingin menyergap

Menatap musuh pergi perlahan meninggalkan kotanya

Dari bau mortir berasap dan jerit tangis di setiap sudut kota

 

Ia tak gentar dan terus merangkak menuju gerbang kota

Menyusuri lorong-lorong kecil berdarah yang dicintainya

Ia pantang menyerah dalam jiwa patriotik demi harkatnya

Berorasi mempertaruhkan jiwa raga demi tanah moyangnya

Tuk berkata baik dalam mempertahankan tanah tumpah darahnya

 

Darah patriotik itu berkorban menyambut peluruh membundar di dalamnya

Maupun menghadangnya di perjalanan menggapai kota kecintaannya

 

Oh kota, pijakan kirab hidup tanah moyang

Disergap kolonialisme serakah rakus dan tamak

Ia merangkak di atas bumi tumpah darahnya

Luka-luka terbuka di badannya memberontak

Melahirkan titah di sepercik tenaga yang tersisa

 

Ia pun berkata pada anak generasi yang mengusungnya

Manusia berasal dari tanah dan kembali ke tanah

Aku pun tiba saatnya anak generasiku

Bumi telah menyusui dan membesarkan kita dengan air mata

Maka demi kehormatannya akan merabah kepangkuannya

 

Ketika matahari bersembunyi di balik bumi

Hari pun malam dan bumi berpeluh kemerahan

Tapi pasti ada hari esok anak cucuku

Maka lihatlah fajar akan datang menghampiri bumi kita

Maka tandailah tempat istirahatku dan tanamlah benih generasiku

 

Ia akan tumbuh subur menghiasi bumi tak berkesudahan

Kegembiraanku akan terucap ketika tanah rebahanku tergembur

Maka doa restuku mengukir perjalanan hidupmu dengan tanah ini

Dalam melengkapi finish perjuangan mencintai tanah moyang

Dan aku pun pergi tuk selamanya karena mencintai generasi dan bumiku

 

 

Kupang, 16 November 2022

 

Apolonaris S.B.O. Muda

 

                                   

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebesaran Hati Boby

Berbicara Ringan tentang Cinta

Sepenggal Kisah Ratapan Dalam Pengharapan