SURAT TERBUKA KEPADA SI PENGUASA

                                                                                      TEMA : ANTI KORUPSI

                       SURAT TERBUKA KEPADA SI PENGUASA


Suara lantang sang pemimpin berorasi dengan gagah 

Melantunkan nama Tuhan, mengikrar janji perjuangan

Ia berdiri di atas panggung dan ribuan bola mata menyorotnya dengan tajam Sembari mengucap sumpah setianya, Ia meneteskan air mata kebanggaan

Jutaan manusia menjadikannya kesatria harapan bangsa dengan secercah cita-cita



Wahai sang orator, kau tatap wajah sayu saudara sebangsa dan setanah airmu Kau telusuri setiap lorong kecil yang penuh dengan suara tangisan

Kau gapai tangga kecil di ujung tembok pemisah para hartawan dan para fakir Panjatlah, lihatlah dan dengarkan teriakan yang sekian lama terselubung duka Betapa menyedihkan, hak miliknya di rampas oleh para borjuis tak beriman


Peralihan zaman tidak mengubah isak tangis menjadi senyuman kebahagiaan Para penguasa melupakan sumpah setianya kepada sang pencipta

Kekejaman dunia menghalau rasa iba di hatinya, tergantikan oleh perasaan yang serakah Melepas genggaman tanggannya dari orang tertindas

Mengkambing hitamkan kepercayaan sanak saudaranya, demi kepentingan pribadi

 

Kekejian itu melahirkan bencana kelaparan di setiap sudut tanah air Ratapan anak yatim dan tuna wisma tak lagi terbendung

Beberapa dari mereka perlahan tapi pasti menemui ajalnya Namun kematian adalah kedamaian yang dinanti-nantikan

Sungguh menyedihkan, kematian adalah satu-satunya impian mereka



Pandanglah peristiwa menyedihkan itu wahai si pengemban pembaharuan bangsa Nyanyian tak bernada rakyat kecil di tanahmu berakhir dengan tragis


Masih membekas teriakan semangatmu dalam ingatan kami Kau berjanji tak akan segan menolak rayuan manis penuh dosa Mengabaikan kepentingan pribadi demi kepentingan rakyat Sumpah setiamu selalu terngiang di benak kami

Jutaan doa pun mengiringi langkahmu dalam perjuangan

 

Maka ketika kau berada di bangunan megah sana, seringlah kau menoleh ke luar Jangan kau bercermin kepada para pendahulumu yang tak punya nurani

Suara lantang saat mengucap janji manisnya dahulu

Kini menjelma menjadi rekaman suara penjagal berhati ular Rakyat kecil mati tanpa sebidang tanah untuk pemakamannya

 

Oh pembawa pesan suara rakyat, tegakkan kepalamu, condongkan dadamu Bertarunglah dengan gagah sembari melantukan doa

Perjuangkan hak rakyatmu, berikan mereka senyuman kebahagiaan Maka jasamu akan di catat oleh para malaikat di surga

Penciptamu akan memberikanmu keselamatan dunia dan akhirat


                                                         Apolonaris S.B.O. Muda

                                                    (GORESAN SEMENTARA) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebesaran Hati Boby

Berbicara Ringan tentang Cinta

Sepenggal Kisah Ratapan Dalam Pengharapan