Cermin Kepribadian

 

Tema : Karma

CERMIN KEPRIBADIAN

Oleh : Apolonaris S.B.O. Muda


Di suatu tempat di dalam hutan lebat yang cukup jauh dari perkotaan, disana terdapat sebuah rumah megah yang sangat luas. Rumah itu boleh di sebut sebagai rumah misterius karena keberadaannya tidak diketahui oleh siapapun kecuali orang yang tinggal di dalam rumah itu sendiri. Di dalam rumah itu terdapat satu orang pria muda dengan dua orang wanita muda. Mereka hidup berdampingan selayaknya manusia biasa, namun tidak pergi membaur dengan orang di luar sana. Ternyata ada sebuah sumpah yang di laksanakan pria yang tinggal bersama kedua wanita itu. Pria itu menjalani sumpahnya lewat sebuah perjanjian dengan seorang dukun, yang ia datangi untuk memperoleh kebahagiaan dunia. Dukun itu menyetujui dengan memberikan sebuah syarat bahwa ia harus bersumpah untuk bekerja mencari makanan di hutan dan memberikan makan pada kedua wanita itu. Jika tiga bulan pria itu sanggup membuat kedua wanita itu tidak merasakan kelaparan, maka ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan dan boleh pergi menikmati hidupnya di luar rumah itu. Ia akan di perlakukan dengan baik oleh kedua wanita muda itu, namun ia tidak boleh menyentuh seperti istrinya kepada siapapun dari kedua wanita itu. Jika ia gagal maka ia akan mendapatkan hukuman. Pria itu sendiri tidak tahu hukuman apa yang akan ia terima jika gagal.

Awal mula pria itu menjalankan sumpahnya dengan berat hati. Ia takut kalau nanti ia gagal, maka ia akan mendapatkan hukuman dan tidak mendapatkan keinginannya. Namun setelah itu, yang terjadi malah sebaliknya. Pria itu menjalaninya dengan penuh suka cita dan penuh semangat. Bagaimana tidak, kedua wanita itu begitu cantik-cantik dan begitu menyayanginya. Ia di perlakukan bagaikan seorang raja. Dimanapun ia pergi mencari makanan, wanita-wanita itu selalu menemaninya tanpa mengeluh sedikitpun. Saat ia tidur, wanita-wanita itu menjaganya, dengan mengelus-elus kepalanya. Setiap hari pria itu selalu tersenyum, ia sangat menikmati kehidupannya. Pria itu kemudian mengatakan kepada kedua wanita itu, bahwa ia akan membuat mereka bahagia. Bahkan setelah menyelesaikan sumpahnya itu, ia akan tetap memberikan makanan kepada kedua wanita itu di luar sana, sebagai imbalan dari perlakuan baik kedua wanita itu kepadanya selama menjalankan sumpahnya.

Tiga bulan kemudian, pria itu bangun dari tidurnya dan bersiul kegirangan di tempat tidurnya, karena hari itu adalah hari terakhir ia menjalankan sumpahnya. Saat ia keluar dari kamarnya, ia sangat terkejut melihat kedua wanita itu telah mengandung. Mengetahui hal itu, pria itu sangat kebingungan. Ternyata selama ini ia terbuai dengan kasih sayang kedua wanita itu dan telah berbuat hal yang tentunya melanggar sumpahnya. Ia memang hanya tinggal melaksanakan sumpahnya hingga tengah malam nanti, namun ia melanggar salah satu syarat . Tentu hal ini membuatnya panik. Pada malam harinya, pria itu menemui dukun yang telah membuat janji dengannya, dan menyampaikan berita kehamilan kedua wanita itu:

“Hai sang dukun, kedua wanita itu telah mengandung anak-anakku”.

“Apa yang engkau lakukan anak muda?”.

“Para wanita itu memperlakukanku seperti seorang suami”.

“Tetapi kau tidak menikahi mereka dengan ijin Tuhan”.

“Lalu apa yang harus aku lakukan hai sang dukun?”

“Kau melanggar sumpahmu anak muda, tetapi kau bisa membayarnya”.

“Dengan apa aku membayar kesalahanku sang dukun?”.

“Maka kini tugasmu bertambah anak muda. Kau harus memberi makan anak-anak dalam kandungan itu”.

“Hingga kapan aku melaksanakan tugas itu sang dukun?”

“Sembilan bulan, hingga anak-anak itu lahir”.

Pria itu kemudian kembali berjalan menuju rumah misterius itu. Hatinya begitu sedih, karna harus melanjutkan perjuangannya selama sembilan bulan ke depan lagi. Setibanya di rumah, pria itu memandangi kedua wanita itu dengan kesal. Ia beranggapan bahwa kedua wanita itulah yang menggodanya, sehingga ia larut dalam kesenangan. Ia beranggapan, bahwa kedua wanita itu pembawa sial dalam proses menjalani sumpahnya. Iapun mengatakan kepada mereka, bahwa ia akan membunuh mereka jika ia gagal dalam menjalani sumpahnya lagi. Kedua wanita itu hanya tertunduk dan ketakutan. Pria itu juga mengatakan, jika ia hanya akan memberikan bahan makanan untuk kedua wanita itu lebih banyak dari sebelumnya, namun ia tidak peduli dengan bagaimana kedua wanita itu menjaga anak dalam kandungannya. Benar saja, ia tidak memperdulikan ketika kedua wanita itu mengidamkan sesuatu. Setelah mencari bahan makanan, ia lantas tertidur pulas tanpa memperdulikan kedua wanita itu.

            Pada usia kandungan yang sudah memasuki usia tujuh bulan, kedua wanita itu memiliki bentuk perut yang besar, tetapi tubuh mereka sangat kurus. Selama ini, kedua wanita itu lebih banyak tidak makan karena tidak sesuai dengan keinginan lidahnya saat mengandung. Bahkan mencium makanan yang di bawa pria itu, mereka merasakan mual dan muntah. Seolah-olah bayi di dalam kandungan kedua wanita itu tidak ingin memakan segala jenis makanan yang di bawa pria itu. Kedua wanita itu malah merasa, jika daging pria itu adalah makanan terenak yang ingin mereka makan. Namun hal itu tidak mungkin, karena memakan tubuh manusia adalah hal yang aneh. Apalagi kedua wanita itu sudah menaruh cinta kepada pria itu.

Waktupun terus berjalan hingga memasuki masa akhir kehamilan kedua wanita itu. Kondisi mereka sangat memprihatinkan. Sedangkan pria itu, seolah tidak punya tanggung jawab atas bayi dalam kandungan kedua wanita itu. Ia benar-benar tidak memperdulikan kondisi janin dan kedua wanita itu. Hari itu, pria tersebut sedang menikmati segelas kopi di halaman rumah itu. Tiba-tiba terdengar suara rintihan dari dalam rumah. Pria itu kemudian beranjak dari tempat duduknya dan menuju sumber suara itu. Ia sangat kebingungan melihat kedua wanita itu sedang tergeletak di lantai dan mengerang kesakitan. Merekapun meminta tolong kepada pria itu:

“Mas, sudilah kiranya engkau membawa kami ke desa tempat kediaman dukun melahirkan. Kini waktunya kami melahirkan”, ucap salah seorang dari kedua wanita itu.

“Apa? Tidak mungkin itu terjadi. Apalah kata orang di luar sana jika mengetahui bahwa aku telah menghamili kalian. Kalian bukanlah istriku”.

“Tapi kami tidak kuat dan tidak tau harus berbuat apa mas”

“Kalian harus bisa melahirkan bayi itu tanpa seorang dukun melahirkan”.

“Tolonglah kami mas, kami tidak bisa melakukan itu sendirian”, ucap seorang wanita itu dengan suara berat karena menahan sakit.

“Persetan dengan itu. Aku tidak akan membiarkan orang lain tau akan hal ini”.

Pria itu kemudian hanya berdiri memandangi kedua wanita itu tanpa sedikitpun rasa iba. Kedua wanita itu akhirnya berusaha sekuat tenaga untuk melahirkan. Dengan kondisi tubuh yang lemah, mereka berusaha sekuat tenaga untuk bisa melahirkan bayi mereka. Akhirnya kedua bayi itu lahir, namun kedua wanita itu harus kehilangan nyawanya. Mereka telah berjuang demi kehidupan bayi mereka, namun apalah daya dengan kondisi tubuh yang lemah akibat kekurangan makanan dan gizi dalam proses kehamilan, kedua wanita itu harus kembali ke pangkuan yang maha kuasa. Sungguh malang nasib kedua wanita itu. Pria itu malah merencanakan untuk membunuh kedua bayi itu, agar ia tak harus repot-repot mengurusi kedua bayi itu. Ia berjalan menuju dapur dan mengambil sebilah pisau. Saat hendak membunuh kedua bayi itu, tiba-tiba dukun yang telah membuat sumpah dengan pria itu muncul di hadapannya dengan wajah penuh kemarahan:

            “Hai pria tidak bertanggung jawab. Letakkan pisau itu dan berlutut di hadapanku”.

Pria itu sangat ketakutan. Rencana busuknya telah di ketahui. Iapun meletakkan pisau itu dan berlutut di hadapan dukun itu sembari menangis dan memohon ampun.

            “Ampunilah aku hai dukun. Sudilah kiranya sang dukun tidak menghukumku”.

            “Engkau telah melakukan perbuatan keji hai anak muda. Namun kemurahan hatiku, sehingga memberimu kesempatan memperbaiki kekhilafanmu. Namun kebusukan hatimu, sehingga engkau tega membiarkan kedua wanita ini melahirkan dengan susah payah, hingga harus mati tidak berdaya. Bahkan engkau tega akan membunuh kedua anakmu sendiri ”, ucap sang dukun penuh kemarahan.

            “Ampuni aku sang dukun. Aku tidak sanggup menghidupi kedua bayi itu sendirian”.

            “Berakhir sudah anak muda. Tibalah saatnya kau peroleh hukumanmu”.

Tiba-tiba dukun itu mengucapkan mantranya, dan mengarahkan tongkat saktinya ke arah kedua bayi mungil itu. Tidak butuh waktu lama, tiba-tiba kedua bayi itu berubah menjadi anjing berukuran besar dengan mata berwarna merah. Kedua ekor anjing itu kemudian menatap pria itu dengan penuh amarah, seolah-olah sedang kelaparan dan ingin menyantap tubuh pria yang merupakan ayah mereka sendiri, seperti yang ibu mereka rasakan saat mengidam di waktu kehamilan. Pria itu sangat ketakutan dan ingin berlari menghindari kedua anjing itu. Ketika pria itu berdiri dan berlari, kedua anjing itu langsung mengejar pria itu. Kecepatan kedua binatang yang sedang kelaparan itu tidak bisa di hindari pria itu. Dengan cepat, kedua anjing itu melompat dan menerkam pria itu, kemudian menggigit dan mencabik-cabik daging pria itu dengan buas. Pria itu hanya bisa berteriak histeris kesakitan sambil menanti ajalnya. Dukun yang menyaksikan kejadian itu pun berkata :

            “Apa yang terjadi kepada dirimu adalah cerminan atas perbuatanmu anak muda. Kau tidak berperikemanusiaan dan berlaku bagaikan seekor anjing yang buas. Hanya seekor anjing yang melakukan perkawinan tanpa pernikahan, dan hanya seekor anjing yang tega membunuh kerabatnya tanpa belas kasih. Bahkan tidak semua anjing berlaku hal serupa, hanya anjing gila yang melakukan itu”.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebesaran Hati Boby

Berbicara Ringan tentang Cinta

Sepenggal Kisah Ratapan Dalam Pengharapan