Bingkai Hati Berlukis Rindu
BINGKAI
HATI BERLUKIS RINDU
Oleh
: Yuliana Weta Raja & Apolonaris S.B.O. Muda
Riuh
suara gelombang menggiring perasaan rindu, Menepis hiruk pikuk dunia yang penuh
misteri. Hempasan angin laut merasuki jiwa, mengupas kenangan penuh makna. Di
air itu, tergambar wajah insan kerinduan, rasanya ingin tenggelam di sana
bersama mimpi. Jejak kaki di hamparan pasir menghiasi pandangan, namun hilang dikikis
anak ombak yang berdatangan. Seolah mengingatkan ku, jika fenomena kehidupan
tidak luput dari pertemuan dan perpisahan. Wahai sang penciptaku, sampaikan
salam rinduku kepada mereka yang telah menemuiku dan yang kemudian berpisah
denganku.
Dilahirkan
dengan hadiah pertamaku berupa nama yang indah, membuat diriku menjadi lengkap
sebagai manusia. “Lyan”, itulah hadiah teridah dari kedua orang tuaku yang
merupakan opa dan omaku. Ya, sejak lahir aku hidup dengan opa dan omaku dan
mengira bahwa kedua orang tercinta itu adalah ayah dan ibuku. Namun, walaupun
aku tidak hidup bersama kedua orang tuaku, aku tetap mendapatkan kasih sayang
yang sama dengan anak-anak lain yang hidup dengan kedua orang tuanya. Aku
merasakan kebahagiaan yang tidak mampu diwakili oleh kata-kata apapun selama
bersama mereka. Apapun yang aku inginkan, mereka selalu berusaha memenuhi
dengan segala kekurangan mereka. Bahkan, sebagai seorang anak, aku tidak pernah
merasakan kekurangan. Terlebih, perhatian dan cinta yang sangat luar biasa.
Sebagai anak perempuan, aku bahkan tidak diijinkan untuk mengerjakan pekerjaan
rumah. Hingga pada saatnya aku lulus dari sekolah dasar dan masuk SMP, barulah
opa memintaku untuk belajar menjadi wanita yang mandiri. Opa menyuruhku untuk
masuk ke sebuah asrama putri milik yayasan katolik. Pada awalnya, aku merasa
itu adalah hal yang berat karena harus tinggal pisah dengan opa dan omaku.
Namun, aku sangat menghormati opa, sehingga aku mengiyakan hal itu.
Satu
bulan kemudian setelah masuk ke asrama, tibalah sebuah kabar yang datang dari
pamanku. Malam itu, paman menghampiriku di asrama setelah ijin ke suster di
asrama. Pamanku mengatakan bahwa opa sedang sakit, dan sedang berada di rumah
sakit. Untuk itu, paman memohon ijin kepada suster untuk membawaku ke rumah
sakit. Sebenarnya, paman tidak akan menemuiku jika saja opa tidak
memanggil-manggil namaku. Namun seolah ingin membuat opa senang dan cepat
sembuh, paman ingin membawaku menemui opa. Aku kemudian mengukuti paman dengan
sepeda motor ke rumah sakit untuk menemui opaku. Setibanya di sana, aku duduk
di sebelah opa. Aku memegang tangannya dan menatapnya dengan perasaan sedih. Di
dalam hatiku, aku berdoa kepada Tuhan agar opa cepat sembuh dari sakitnya.
Sejak itu, aku sering kabur dari asrama untuk menjaga opa di rumah sakit.
Beberapa
hari kemudian, dokter dan keluargaku sepakat agar opa dirawat di rumah. Akupun
akhirnya ikut pulang ke rumah untuk menjaga opa yang sakit. Aku bahkan alpa
dari sekolah hanya untuk menjaga opa. Namun apalah daya, Tuhan yang memberi
nafas, dia pula yang mengambilnya. Aku harus menangis di samping opa, setelah
selesai menyuapnya sarapan pagi. Air mata seolah berusaha membasahi jiwaku yang
kering. Suara tangisanku seolah menyalak dengan kenyataan. Duniaku seolah
menjelma menjadi musuhku. Pria yang adalah cinta pertamaku, pergi membawa
cintaku tanpa jejak. Terang mataku tak lagi mampu menyorot setiap sudut dunia,
untuk menemukan sosoknya. Pergi jauh dan tak akan pernah kembali lagi. Aku
harus menyaksikan matanya yang tertutup dan tak akan pernah terbuka lagi. Hari
itu adalah hari yang menikam hatiku dengan kejam dan melukis kenangan pahit
dalam hidupku. Namun aku percaya, bahwa opa akan lebih sengsara menanggung
sakitnya jika ia masih bernafas. Maka Tuhan mengakhiri kesengsaraan itu dengan
membawa opa pulang ke pangkuannya. Opa akan damai di sana dan mendapatkan
kesembuhannya.
Ya,
kehidupan tidak luput dari suka dan duka. Dasar kehidupan adalah ada awal
dan ada akhir. Maka akupun harus merelakan kepergian orang tercintaku itu.
Selipan permohonan dalam doaku, akan mengiringi perjalanannya menuju alam baka,
dan membantunya dalam penghakiman terakhir. Aku terus berdoa hingga saat ini,
agar Tuhan mengampuni dosa opaku dan memberikan tempat terbaik bagi opaku di
surga. Ya, aku tahu dalam kepercayaan orang katolik, orang yang sudah mati
tidak bisa mendokan dirinya sendiri dan orang hidup tidak lagi bisa mendokan
orang yang sudah mati. Orang hidup hanya bisa mendoakan dirinya sendiri dan
mendoakan orang yang masih hidup. Namun Tuhan adalah maha pendengar. Oleh sebeb
itu, di setiap doaku, aku menyampaikan permohonan kepada Tuhan untuk hikmat
pribadiku, agar dengan keringanan hatinya, Tuhan mengabulkan permohonanku.
Itulah mengapa, setiap saat kita berdoa, kita terus memohon pengampunan bagi
orang yang sudah mati lewat hikmat yang masih kita miliki.
Peristiwa
pahit itu akhirnya membuatku memutuskan untuk keluar dari asrama untuk tinggal
dengan omaku. Aku ingin menjaga omaku di sisa hidupnya. Menyayanginya seperti
opa menyayanginya, merawatnya sebagai bentuk balas budi akan cinta yang telah
mereka berikan. Aku yang dulu sering di larang opa untuk bekerja di dapur,
akhirnya belajar masak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Mungkin opa akan
mengomeliku dari surga. Tetapi aku yakin, di alam berbeda opa akan tersenyum
melihat aku merawat oma dengan baik dan telah tumbuh menjadi wanita yang
mandiri sesuai keinginannya menyuruhku masuk asrama. Pada akhirnya aku ingin
menyampaikan sesuatu kepada opa, “Opa, terima kasih sudah merawatku sejak kecil.
Maaf, Lyan belum bisa membahagian opa. Tetapi Lyan berjanji, akan merawat oma
dengan baik. Lyan rindu sekali sama opa. Jadilah orang kudus sebagai pendoa
bagi kami. Oh iya, jika nanti aku tumbuh dewasa, semoga pria yang menikahiku
menyayangi aku sama seperti opa menyayangiku. Lyan sayang sama opa”.
***

Komentar
Posting Komentar