Bungkusan Duka
Tema
: Kehilangan Tak Pernah Baik-Baik Saja
BUNGKUSAN
DUKA
Oleh : Apolonaris S.B.O. Muda
Perpisahan
adalah akhir dari sebuah pertemuan. Itu adalah kalimat yang sering kita dengar
atau kita lihat pada sebuah peristiwa yang nyata maupun bacaan yang kita
konsumsi. Ya, dasar ilmu kehidupan adalah ada awal, ada akhir. Seperti
kelahiran dan kematian atau bertemu dengan teman-teman di kelas satu SD, dan
akan berpisah setelah lulus dari kelas enam. Kita tidak bisa menghindar dari
sebuah pertemuan dan perpisahan. Bagaimana denganku? Aku sama dengan kebanyakan
orang. Perpisahan terberat dalam hidupku adalah ketika berpisah dari kekasihku.
Bagaimana mungkin hal ini tidak membuatku
sedih, aku di tinggalkan saat sedang berusaha menyiapkan masa depanku, yang
salah satunya adalah menikah dengan kekasihku. Ya, saat ini aku belum punya
apa-apa. Aku masih berkuliah, yang tentunya aku belum memiliki pekerjaan yang
dapat menghasilkan uang.
Sore
itu aku mendapat sebuah pesan di ponselku. Pesan itu berasal dari kekasihku. Ia
meminta waktuku, untuk membicarakan hubungan kami dengan serius. Hal itu
membuatku cukup deg-degan karena beberapa minggu yang lalu, kekasihku pernah
menyampaikan bahwa keluarganya meragukan keseriusanku, karena hingga saat ini aku
belum juga bekerja. Sedangkan kekasihku sudah bekerja sebagai seorang dosen dan
telah menginjak usia 25 Tahun. Ya, di zaman sekarang, cinta di permalukan dengan
menjadikannya sebagai bentuk investasi
ekonomi. Cinta di ukur dengan hitungan untung dan rugi. Pemikiran materialisme
itu seolah menolak peristiwa penciptaan oleh Tuhan. Akhirnya kekasihku
memutuskan untuk mengakhiri hubungannya denganku.
Menjelang
malam, aku menuju ke sebuah jembatan dengan sepeda motor. Disana aku
menghabiskan waktu hingga tengah malam untuk menangis. Dengungan maut
menghantui pikiranku, yang membuat aku sempat berpikir untuk mengakhiri hidupku
di jembatan itu. Tiba-tiba, ponselku bergetar, dan fokusku teralihkan oleh
getaran ponsel di saku celanaku. Fokusku teralih, aku mengambil ponsel dari
saku celanaku dan melihat layar ponselku. Di layar itu, terpampang sebuah pesan
dari nama kontak yang dihiasi emot buah hati di belakangnnya. Ya, kekasihku
mengirimkan aku pesan. Hal itu merubah suasana hatiku. Aku bergegas membuka pesan
itu dan ternyata, kekasihku menanyakan keberadaanku. Akupun memberitahunya aku
sedang di sebuah jembatan. Dengan suara berat seperti orang menangis, kekasihku
memohon agar aku pulang ke kost. Hal itu membuatku menaruh ponsel itu di dadaku
dan memeluk dengan erat sambil menangis. Ternyata kekasihku masih
memperdulikanku. Pikiranku berubah dengan cepat, dan aku memutuskan untuk
kembali ke kostku. Sungguh, kekasihku adalah cintaku yang luar biasa. Ia
menyelamatkan nyawaku malam itu. Nama cantiknya di ponselku membuatku sadar
dari kekacauan di pikiranku. Aku kemudian menaiki sepeda motorku, menyalakan
mesin dan berangkat kembali ke kost. Di perjalanan, aku terus menangis dan
memohon ampun kepada Tuhan. Aku hampir saja membawa diriku ke dalam neraka
jahanam dan hampir saja membuat papa, mama dan adik-adikku terluka parah dengan
diriku. Akupun bersyukur, tanpa kekasihku tahu, ia telah menyelamatkanku. Kekuatan
cinta itu akan selalu ada dan tetap hidup walaupun kami tidak lagi bersama.
Setelah
peristiwa itu, aku menyadari bahwa aku bersedih karena perpisahan kami, bukan
karena telah salah mencintainya. Menurutku, cinta itu hal istimewa yang tidak
semua manusia miliki. Dunia yang semakin tua, membuat cinta di pandang sebagai
hal yang tidak begitu penting dan malah dianggap malapetaka. Padahal dengan
cinta kita mampu berpisah tanpa sebuah kebencian. Dengan cinta, kita dengan
cepat memahami keadaan sekitar kita dan bisa berpikir positif. Kekasihku
memutuskan hubungan bukan karena tidak mencintaiku atau membenciku, tetapi
karena tekanan psikologinya dan faktor keluarganya. Ia juga pasti sedang tidak
baik-baik saja, sama sepertiku. Hubunganku dengan kekasihku masih bisa
dipisahkan, tetapi hubungan kekasihku dengan keluarganya tidak mungkin
dipisahkan. Disisi lain, alam punya cara tersendiri untuk menyeleksi
siapa-siapa saja yang harus pergi dan yang tetap tinggal. Kadang Tuhan memberikan
pelajaran dengan sengaja merenggangkan kita, agar kita sadar bahwa ada hal yang
harus di perbaiki. Pada akhirnya Tuhan akan mempertemukan kita dengan
orang-orang yang tepat. Rencana Tuhan selalu lebih indah, aku yakin akan hal
itu. Saat ini aku menjalani hidupku dengan tetap mengejar tujuanku sambil
membangkitkan semangatku secara perlahan. Wajah bahagia kedua orang tuaku,
adalah impian sesungguhnya. Semua pikiran bijak itu dapat membungkus duka kita
dengan sangat baik, yang akan membantu kita pelan-pelan menerima kenyataan dan
pada akhirnya sembuh dari luka. Jika di tanya apakah aku membenci kekasihku dan
keluarganya? Jawabannya sama sekali tidak. Aku hanya membenci pikiran dan
pemahaman mereka.
***

Komentar
Posting Komentar