Dalang di balik kelahiran predator psikologi
DALANG
DI BALIK KELAHIRAN PREDATOR PSIKOLOGI
Oleh
: Apolonaris S.B.O. Muda
Dunia
bekerja begitu rapi dan sangat disiplin sehingga mampu melahirkan sebuah sistem
yang mampu merasuki hati dan pikiran, kemudian di anggap sebagai sesuatu yang
bernilai benar, tanpa sebuah pertanyaan dan keraguan bagaimana sistem itu bisa
hadir dan mampu menciptakan kekacauan bagi manusia?. Siapakah dalang di balik
sistem itu? Apakah ia adalah manusia? Ataukah ia merupakan sejenis ular yang pernah mengelabuhi Hawa pada
cerita manusia pertama? Apakah sistem itu benar-benar bernilai benar? atau menjadi
benar karna kita yang bodoh? Kebodohan bukan tentang sedang terjadinya ketidak-tahuan
akan banyak hal melainkan ketidak-tahuan akan kebenaran dari banyak hal yang
kita tahu. Pengetahuan merupakan hal yang sangat penting bagi sebuah kedamaian
batin, namun pengetahuan yang salah akan membawa malapetaka bagi mereka yang
tidak mampu mengahadirkan rasa syukur akan segala nikmat yang hadir dalam
hidupnya. Manusia lebih teliti dalam menganalisa hal buruk yang terjadi
daripada hal baik yang sering ia dapatkan. Ketidak puasan dan ambisi untuk
selalu mendapatkan apa yang diinginkan lantas melahirkan sifat serakah yang
menyakiti banyak hati.
Mayoritas
manusia berpandangan bahwa harta, tahta dan kemampuan mempengaruhi orang lain
adalah sebuah standart kemenangan dalam menghadapi hidup. Adakah terbesit dalam
pikiran kita tentang siapa pemeran utama yang merancang standart itu?. Manusia
melupakan sejarah tentang bagaimana Tuhan menciptakan manusia dengan bekal akal
budi dan nurani untuk menunjukkan eksistensi Tuhan yang di mulai dengan melatih
hati dan pikirannya untuk mempelajari sebuah kebenaran dan patuh akan perintah
Tuhan, dengan harapan mampu menyebarkan kabar baik tentang Tuhan, yang akan
menyelamatkan dirinya dari neraka jahanam di akhir hayat hidupnya. Jika hal itu
di abaikan, apakah manusia di ciptakan tidak berbeda dengan kambing? Yang
lehernya di tali dan di kandangi kemudian bergerak mengikuti orang yang menarik
talinya tanpa sedikitpun otak dan hatinya bekerja. Parahnya manusia hanya
melabeli itu sebagai sebuah fenomena zaman yang wajib di turuti demi
keberlangsungan hidup tanpa menyadari ia sedang menjadi budak dunia yang tidak
tahu siapa Rajanya. Hal yang bukan merupakan tujuan dari kelahirannya di dunia.
Saya
berikan sebuah contoh dengan sebuah ilustrasi. Negara Pandawa adalah negara
maju yang patut di contohi semangat juangnya. Kemudian manusia yang hidup di
negara-negara tertinggal menatap bangsa Pandawa sebagai bangsa yang patut di
contoh bahkan bertingkah menyerupai bangsa Pandawa dalam kesehariannya yang
pada akhirnya mereka lupa dan bahkan sama sekali hilang jati dirinya sebagai
bangsa yang berbeda. Menelusuri setiap wadah belajar yang mengarah kepada
pengetahuan tentang besarnya bangsa Pandawa yang berefek pada ketidak-tahuannya
tentang bangsanya sendiri. Melupakan sejarah bangsanya, melupakan jasa para
pahlawan bangsa, melupakan bagaimana bangsanya lepas dari derita dan lupa akan
tugasnya mempertahankan dan melanjutkan perjuangan para pahlawan yang telah
berkorban nyawa. Di samping itu Negara Pandawa terus berpikir, bagaimana mereka
bekerja memperjuangkan stabilitas keunggulannya dalam berbagai aspek. Contohnya
salah satu aspek dalam dunia model. Bangsa pandawa mempromosikan para modelnya
dengan bentuk fisik tinggi semampai, berkulit putih dan berambut lurus.
Kemudian para model bangsa Pandawa menjadi idola bangsa-bangsa tertinggal dan
menjadi standart kecantikan dan ketampanan. Apa yang terjadi kemudian? Manusia
yang berkulit hitam dengan rambut keriting dan bertubuh pendek adalah manusia
dengan fisik yang buruk di mata para hakim tak berpengatahuan. Apakah standart
itu benar? Apakah manusia sedang mengiyakan sebuah kebenaran atau sedang
menghina karya Tuhan?. Tidak ada satupun manusia yang mampu meluruskan itu di
tengah jutaan orang. Hal itu hanya akan membahayakan dirinya sendiri. Yang bisa
dilakukan adalah meluruskan itu di dalam hati dan pikirannya sendiri. Dan masing-masing manusia mempunyai kewajiban menjawab pertanyaan-pertanyaan itu secara parsial.
Maka
saya pun menyelipakan sebuah pesan yang tidak lepas dari teori idealis dan
realis. Jika si paling merasa hebat dan pintar dengan pengaruhnya yang besar,
memaksakan kita untuk mengikuti alurnya, maka yang kita lakukan adalah
mendengarkan dan mengiyakan tanpa harus membantah. Jika tidak, maka kita berada
dalam bahaya. Namun di balik anggukan kita, kita menolak dengan tetap berpegang
teguh pada sebuah kebenaran dari hasil belajar kita. Untuk itu kita perlu
sebuah ketenangan untuk mepelajari hal-hal benar tanpa harus berbesar mulut
dengan pengetahuan kita. Cukup untuk pribadi kita dan hubungannya dengan Tuhan.
Jika ingin membagikan hal-hal baik, kita bisa memulainya dengan berbicara
kepada orang-orang yang tepat, yang mempercayai petengkaran ide adalah proses
belajar yang mengedepankan argumen, bukan sentimen. Paling tepat menarasikannya
dalam sebuah tulisan dengan cara yang ilmiah. Hal ini di perkuat sebuah teori
dalam buku 48 Laws of Power tepatnya pada hukum ke-22 : Transform
weaknes into power, yang bisa saya narasikan bahwa, “Ketika kita berada
dalam posisi lemah, jangan bertarung untuk kehormatan. Menyerahlah dulu.
Tungglah hingga power dari penindas kita melemah, barulah kita membalikkan
keadaan. Jangan berikan penindas kita rasa puas dengan cara menghancurkan
kita”. Tetap semangat bagi para pejuang yang sedang bertahan hidup dengan
fenomena berbagai warna kehidupan yang menyeramkan. Belajarlah yang banyak
tanpa berhenti, hingga menemukan kedamaian batin tanpa di rongrong predator
psikologi. Oh iya, preator psikologi itu adalah orang-orang yang memiliki
kapasitas otak di atas rata-rata dengan power yang kuat, tetapi telah
mempelajari hal yang salah.
Tulisan saya kali ini, sengaja saya tidak memaparkan jawaban dari segala bentuk pertanyaan yang ada. Tulisan ini hanya pemantik bagi setiap orang untuk mulai menggali ilmu pengetahuan yang bernilai benar dengan mengaktifkan area kritikal di dalam pikiran.
(GORESAN
SEMENTARA)
.webp)
Komentar
Posting Komentar