Pinjaman Paling Berharga dari Tuhan
TEMA
: IBU
KESETIAAN
DAN CINTA SESUNGGUHNYA
Oleh
: Apolonaris S.B.O. Muda
Rumah,
bagiku itulah kata yang paling tepat untuk seorang ibu. Seburuk apapun anaknya,
ibu selalu merangkul dan mengayomi dengan penuh kasih. Sejak mengandung, ibu
sudah menaruh rasa cinta yang besar untuk anaknya. Ia menahan keinginan
lidahnya demi kesehatan anaknya di dalam perutnya yang suci. Ia menahan
perihnya sakit yang teramat sangat, demi kelahiran buah hatinya. Sejak kecil
hingga dewasa, ibu selalu menganggap anaknya seperti anak kecil, bukan karena
meremehkan anaknya, melainkan rasa cintanya yang selalu takut akan terjadi
apa-apa kepada anaknya. Tangisan untuk anaknya adalah tangisan paling sedih,
senyuman kebahagiaan untuk anaknya adalah senyuman paling indah. Untuk itu, ibu
adalah rumah yang selalu membuatku nyaman, dan membuatku ingin selalu bersamanya.
Ketika
aku tumbuh menjadi pria dewasa, aku bertemu dengan wanita pujaanku. Aku
menyiapkan segala sesuatu untuk bisa mendapatkan wanita itu. Belajar, menata
penampilan sampai menyiapkan waktu di setiap harinya untuk berkabar dan bertemu
dengannya. Ketika melihat wanita pujaanku, aku berpikir bahwa wanita ini adalah
penyemangat dalam hidupku. Aku akan tumbuh semakin kuat dengan impian yang
besar agar kelak aku mampu meminangnya dan menafkainya serta anak-anakku kelak.
Aku melindunginya dengan berbagai cara. Mulai dari meperhatikan makan dan minumnya,
mengkhawatirkan wanita pujaanku itu di setiap harinya, hingga menangisinya
ketika ia sedang susah hati. Ketika berada di sampingnya, aku memeluknya dengan
erat sebagai bentuk cintaku yang tak sedikitpun ingin melihatnya bersedih.
Hingga pada akhirnya, wanita pujaanku dengan tega membuat luka di hatiku tanpa
memperdulikan perasaanku. Ia pergi karena tidak lagi sabar menunggu
perjuanganku yang penuh dengan peristiwa kegagalan, ditambah tekanan
keluarganya yang meragukanku. Tanpa sedikitpun rasa peduli akan kesedihanku,
wanita itu menunjukkan senyuman manisnya di sosial media, seolah ia bahagia
dengan kesedihanku.
Peristiwa
menyakitkan itu membuatku sadar, bahwa Tuhan menghukumku karena kehadiran
wanita pujaanku, aku melupakan ibuku. Aku berkabar dengan ibuku tiga hari
sekali, tetapi dengan wanita pujaanku setiap hari. Aku begitu menjaga perasaan
kekasihku tetapi aku tidak perduli dengan perasaan ibuku yang merindukanku. Aku
bersedih ketika melihat kekasihku dalam masalah, tetapi aku tidak pernah
mencari tahu bagaimana persoalan yang sedang ibuku hadapi. Aku memperhatikan
makan kekasihku, tetapi aku tidak pernah tahu bagaimana ibuku menyisahkan uang
sayurnya setelah mengirimkan aku uang bulanan. Aku begitu takut berbuat salah
agar kekasihku tidak merajuk, tetapi aku tidak pernah perduli ketika ibuku
marah. Aku menyiapkan hadiah untuk ulang tahun kekasihku, tetapi aku tidak
pernah sekalipun memberikan hadiah ulang tahun kepada ibuku dan yang paling
parah, aku mengejar impianku demi kekasihku tanpa mengingat ibuku yang
membiayai sekolahku. Tuhan maha adil, aku pantas mendapatkan hukuman itu. Ini
bukan salah kekasihku, ini adalah imbalan dari ketidak tahuan balas budiku
untuk ibuku tercinta.
Saat
mengadukan kesedihanku, tidak ada sedikitpun penolakan. Ibu memelukku, mengusap
air mataku hingga ikut menangis. Ibuku seakan ikut terluka. Aku tahu ibuku
tidak tega melihat aku terluka. Ia kemudian mendengarkan semua aduanku hingga
selesai, dan pada akhirnya sebuah ucapan manis penuh kasih sayang merubah makna
tangisanku. Tidak apa-apa nak, kalau semua orang menyakitimu. Apapun
keadaanmu ibu tetap menyayangi dan mencintaimu. Apapun keadaanmu, kamu
tetap anak ibu. Tangisan karena patah hati telah berubah menjadi tangisan
kebahagiaan memiliki seorang ibu yang mencintaiku tanpa sebuah alasan. Di
samping itu aku menyesal telah melupakan ibuku yang tulus mencintaiku sejak
dalam kandungan.
Wahai
saudara dan saudariku, ketika engkau selesai membaca tulisanku ini, temuilah
ibumu dengan cara apapun. Entah lewat telepon atau menemuinya di rumah.
Peluklah ibumu, dan ciumlah ibumu. Minta maaflah dan kembali ke kehidupanmu
tanpa melupakan ibumu di setiap detik hembusan nafasmu yang masih engkau
miliki. Ibumu adalah satu-satunya orang yang mencintaimu lebih dari siapapun.
Disaat orang mengatakan dirimu tidak tampan, ibumu memandangmu sebagai lelaki
tertampan dalam hidupnya. Ketika orang mengatakan dirimu tidak cantik, bagi ibu
dirimu adalah makhluk ciptaan Tuhan paling cantik. Ketika orang menilaimu
sebagai orang yang tidak berguna, ibumu menganggapmu sebagai intan berlian
termahalnya. Disaat susah dan senangmu, hanya ibulah satu-satunya wanita yang
tetap setia berada di sampingmu. Pada akhir tulisan ini aku ingin menyampaikan
kepada ibuku, bahwa aku sangat mencintai ibu lebih dari siapapun.
***

Komentar
Posting Komentar