04 November 2022

 

   04 NOVEMBER 2022


Oleh : Apolonaris S.B.O. Muda


“Gagal”. Sebuah kata yang begitu melekat dalam diriku. Impianku menjadi prajurit TNI gagal. Polri, CPNS dan banyak lagi, semua aku coba, dan semua gagal. Apakah aku tidak pantas menggapai mimpi seperti banyak orang? ataukah Tuhan sedang merencanakan sesuatu untukku?. Kalimat itu selalu mucul di saat aku berkali-kali gagal. Yang aku lakukan adalah meratapi nasibku dengan air mata di dalam kamar kostku yang sempit. Di luar sana, beberapa temanku dan orang-orang seusiaku telah melantunkan pujian kepada Tuhan karena telah mendapatakan keberhasilan. Siapa yang harus aku salahkan? Tuhan? Tidak mungkin. Tuhan terlalu baik. Kegagalanku membuat psikologiku sedikit tertekan. Aku yang dulu menjual senyuman dengan harga murah, kini berubah menjadi orang tanpa reaksi. Suaraku yang dulu mampu membuat orang tersenyum, kini hanya dengan satu kata saja bisa membuat siapa saja menjauhiku. Akhirnya, akupun kehilangan permata berhargaku “Nona Aulia”. Ya, dia adalah wanita yang aku cintai. Hari itu tanggal 04 November 2022, satu-satunya bidadari hatiku melangkah jauh dengan cepat tanpa menoleh, setelah mengucapkan perpisahan. Ia meninggalkanku karena tidak lagi menyimpan rasa dan meragukan perjuanganku. Di tambah lagi keraguan keluarganya tentang kesiapanku meminangnya dengan keadaanku yang tak punya apa-apa. Entah apa yang sudah Aulia lewati selama berjauhan denganku. Ibaratnya, disaat aku sedang merangkak dengan susah payah pada sebuah tebinhg, tiba-tiba kabut tebal menghalangi pandanganku. Tak tahu dimana tujuanku yang merupakan akhir dari perjuanganku. Hubungan kami di mulai sejak Tanggal 23 Februari 2019, Tiga tahun sembilan bulan membuatku punya alasan tetap kuat. Karena Aulia, aku masih berpikir. Karena Aulia, aku masih berjuang dan karena Aulia, aku masih bertahan. Aku mendambakan sebuah mahligai sederhana, dimana aku mengucapkan janji bersamanya didepan Tuhan. Berjanji akan setia dan hidup semati dalam merawat rumah tangga kami sambil memuji dan memuliakan Tuhan. Impian suci itu tertunda oleh kegagalanku dan pada akhirnya impian itu juga menjadi sebuah kegagalan. Apa yang telah terbayang tentang diriku? Ya, aku ingin mengakhiri hidupku. Aku tidak punya alasan lagi untuk bertahan. Dunia telah merenggut cita-cita dan cintaku. Aku ingin mengakhiri hidupku karena tidak ingin melihat Aulia jatuh ke pelukan pria lain. Bagiku, dia milikku. Aku mencintainya tanpa tahu mengapa aku begitu mencintainya.

Sore itu sekitar pukul enam kurang, setelah kekasihku menepis permohonanku untuk bertahan, aku berangkat ke sebuah jembatan dengan sepeda motorku. Sepanjang jalan aku hanya menangis menolak kenyataan pahit itu. Setibanya di sana, suasana sepi yang diiringi suara burung menemani pelik hatiku. Aku duduk lesu diatas pagar besi jembatan itu. Tanpa melepas helm dikepalaku karena malu dilihat orang yang melintas, aku menangis sejadi-jadinya. Aku menyebut namanya berulang-ulang dan membayangkan pelukan dan ciumanku disaat aku berpamitan dengannya untuk merantu. Saat perpisahan di rumahnya waktu itu, aku berkata dalam hatiku “Sayang, aku pergi untuk kembali padamu”. Namun di jembatan itu, aku berkata dalam hatiku, “Sayang, aku pergi untuk selamanya”. Aku menunggu jam dua belas malam dengan nafasku yang segar, untuk mengakhiri tanggal 04 November 2022 dengan tanpa hembusan nafas. Aku ingin memberikan hadiah terakhirku kepadanya dengan jasadku yang tak bernyawa, sebagai tanda kebesaran cintaku yang tak pernah ingin berpisah dengannya. Selanjutnya aku ingin memberikan bukti kepadanya dan keluarganya bahwa aku memang tidak mampu memberikan hadiah indah di moment-moment bahagianya, tetapi aku bisa memberikan nyawaku demi kebahagiaannya. Agar ia menikamti hidupnya tanpa pertanyaan akan kabarku di sepanjang waktunya. Aku berpikir, dengan kematianku Aulia akan dengan cepat melupakanku dan tidak lagi mencari kabarku karena aku sudah berakhir didunia.

Tepat jam 23.44 WITA, Aku melepas helmku dan menulis sebuah pesan pada dua carik kertas kusut dengan pulpen yang sudah kusiapkan. Didalam kertas pertama aku berkata:

“Maafkan aku papa. Maafkan aku mama. Maafkan abang wahai adik-adikku. Maafkan aku tidak pernah memberikan sedikitpun uang untuk belanja sayur mama papa, dan uang buku untuk sekolah adik-adikku. Aku ingin berbuat demikian, tapi hari sudah malam dan aku harus pergi. Aku tidak ingin semakin membebani kalian semua. Aku tidak lagi mampu menjalani hidupku”.

Sambil menulis ucapan itu aku menangis mengingat wajah orang tua dan adik-adikku. Rasanya ingin memeluk mereka sambil mengucapkan itu. Setelah itu aku menulis lagi dikertas kedua :

“Nona Aulia, maafkan aku. Selama ini tekanan psikologiku membuat aku tidak lagi berbicara halus. Aku sering menyakiti perasaanmu dengan kata-kataku. Wajar nona meninggalkan aku. Maafkan aku belum bisa memberimu hadiah ulang tahun yang indah  minggu lalu dan akupun tidak bisa memberikanmu hadiah istimewa di hari wisudamu. Aku memang terlihat tidak peduli akan hal itu, tetapi aku selalu berdoa agar aku bisa memberikannya disuatu hari nanti. Malam ini, mayatku adalah hadiah terbesar untukmu. Agar kau tak lagi mengingatku dan mencari kabarku. Selamat jalan kasihku, Aku sangat mencintaimu”.

Aku merapikan kedua lembar kertas itu dan menaruhnya dicela stang motorku. Dengan berlinang air mata, aku kemudian membuka jaketku, agar bebatuan di bawah jembatan menerima tubuhku dengan mudah. Aku berdiri di atas pagar itu dengan membuka kedua tanganku lebar-lebar sambil berteriak kencang:

“Aulia, aku mencintai mu nona”.

Setelah mengucapkan itu, aku menundukkan kepala dan menutup mataku. Itu adalah detik-detik terakhir aku kehabisan energi dan ingin melompat kebawah untuk sebuah akhir hidupku. Tiba-tiba, ponselku bergetar, dan fokusku teralihkan oleh getaran ponsel disaku celanaku. Entah apa yang ada dalam pikiranku, aku mengambil ponsel dari saku celanaku dan melihat layar ponselku. Di layar itu, terpampang sebuah pesan dari nama kontak yang sangat tidak asing. Ya, Aulia mengirimkan aku pesan. Hal itu merubah suasana hatiku. Aku bergegas turun dari pagar jembatan itu dan membuka pesan itu.

            “Malam No. No ada dimana?”

Hal itu membuatku menaruh ponsel itu didadaku dan memeluk dengan erat sambil menangis. Ternyata Aulia masih memperdulikanku. Pikiranku berubah dengan cepat, aku segera membalas pesan itu:

            “Saya di jembatan Nona”.

            “Ya ampun No. Buat apa di situ? Pulang sudah. Ini sudah jam berapa”.

            “Iya Nona. Saya pulang sekarang”.

            “Hati-hati No”.

Begitulah percakapan kami. Sungguh, Aulia adalah cintaku yang luar biasa. Ia menyelamatkan nyawaku malam itu. Nama cantiknya di ponselku membuatku sadar dari kekhilafanku. Aku segera mengambil dua carik kertas tadi, dan merobeknya lalu meleparkannya ke bawah jembatan. Aku kemudian menaiki sepeda motorku, menyalakan mesin dan berangkat kembali ke kostku. Di jalan aku terus memangis dan memohon maaf kepada Tuhan. Aku hampir saja membawa diriku kedalam neraka jahanam dan hampir saja membuat papa, mama dan adik-adikku terluka parah dengan diriku. Akupun bersyukur, Aulia datang dan menyelamatkanku. Dia benar-benar malaikat penolongku malam itu. Akhirnya aku menyadari satu hal, bahwa Aulia meninggalkanku bukan karena membenciku, tetapi karena Aulia sedang tidak baik-baik saja dengan perasaannya. Tekanan keluarganya, dan tekanan hidup di usianya yang sudah menginjak 25 Tahun. Aulia berhak atas kebahagiaannya, yang walaupun bukan aku orang yang membahagiakannya. Aku mencitainya dan ingin membahagiakannya, jika ia bahagia tanpa aku maka seharusnya aku tetap melihat kebahagiaannya dan mengiklaskannya. Karena tujuan cintaku adalah kebahagiaannya. Aku pulang dengan tetap mencintainya tanpa memaksa Aulia untuk membalas cintaku. Aku hanya bedoa kepada Tuhan, agar suatu saat nanti aku bisa kembali memilikinya dan memperbaiki segala kesalahan dan kekuranganku. Jika tidak demikian, aku berdoa agar Aulia di pertemukan dengan orang yang mencintainya jauh lebih dari aku. Aku juga menyadari bahwa yang membuatku sedih adalah perpisahan kami, tetapi mencintainya bukan sebuah kesalahan. Mencintainya adalah sebuah anugerah terindah dari Tuhan, yang tidak semua orang miliki. Akan aku jaga cinta ini, sebagai motivasiku untuk tetap hidup dengan impian yang besar. Aku yakin, Aulia akan senang jika aku bisa bangkit lebih kuat dari sebelumnya. Mungkin itu hadiah terindah dariku untuknya. Walaupun bisa saja saat itu Aulia sudah memiliki cincin dijari manisnya yang cantik, yang dulu sering aku tempelkan dibibirku.

 

(GORESAN SEMENTARA)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebesaran Hati Boby

Berbicara Ringan tentang Cinta

Sepenggal Kisah Ratapan Dalam Pengharapan