Kebesaran Hati Boby

 

KEBESARAN HATI BOBY

Oleh : Apolonaris S.B.O. Muda

Ibu Sonya baru saja menyelesaikan Tugas Rencana Pembelajaran diawal semester ganjil. Sambil meneguk segalas air, Ibu Sonya teringat akan anak sulungnya yang sedang berkuliah di luar kota. Anak sulungnya seorang laki-laki berusia 24 tahun, bernama Boby dan sedang melanjutkan kuliah Pascasarjananya di Kota Kupang tepatnya di Universitas Nusa Cendana. Beberapa hari yang lalu, Boby dirundung masalah asmara. Hal itu diketahui oleh ibunya lewat Isco, adik Boby yang kedua, yang kebetulan tinggal satu kost dengan Boby. Sebagai seorang Ibu, tentunya Ibu Sonya sangat mengkhawatirkan anaknya yang masih muda. Ya anak muda biasanya akan sangat terganggu fisik maupun psikisnya jika mendapatkan masalah, apalagi masalah asmara. Apalagi Boby tinggal berjauhan dengan orang tuanya.

“Papa, coba kontak Boby. Cek keadaannya. Sy takut dia buat yang aneh-aneh disana. Anak muda ini bahaya sekali kalau putus cinta”.

“Hahaha, biar saja. Namanya juga mereka masih muda, hal begini wajar. Kita juga pernah seperti mereka. Sudah cukup kemarin kita nasehat dia. Kalau keseringan nanti dia makin stres. Nanti dia temukan jawabannya sendiri”, sahut Pak Cris.

“Iya, tapi minimal kita cek keadaannya. Tidak usah bicara soal dia punya masalah. Tanya saja mereka punya keadaan. Makan-minum atau masalah kuliah. Kita sebagai orang tua harus pastikan dia baik-baik saja”, jawab Ibu Sonya mengingatkan.

“Baik Mama”.

Kring…kring…kring…

“Halo Papa, selamat malam”, Boby menjawab telpon ayahnya.

“Malam Boby. Lagi buat apa? Sudah makan malam?”.

“Sudah Papa, barusan selesai. Saya sementara perbaiki tesis sekarang”.

“Tesis sudah sampai mana?”, tanya pak Cris lagi.

“Besok sy pengajuan seminar proposal Papa”.

“Baik Boby. Papa cuma mau cek itu saja. Semangat terus anak sayang. Semoga berhasil besok”, ucap Pak Cris memberi semangat anaknya.

“Hehehe siap. Terima kasih banyak Papa”.

                Setelah menelpon anaknya, Pak Cris langsung berdiri dari tempat duduknya dan hendak masuk kekamar untuk istirahat. Tiba-tiba Ibu Sonya yang sedang duduk tepat disebelahnya dan daritadi menyimak pembicaraan Boby dan Ayahnya, memanggil suaminya dengan nada kesal.

“Papa, bagaimana sih? Santai sekali kelihatannya. Boby lagi tidak baik-baik saja itu. Kita bicarakan dulu bagaimana caranya bantu Boby supaya tidak terganggu aktivitas belajarnya”.

“Mama, Boby itu anak yang mentalnya hebat. Wajar kalau mama kuatir. Tapi percaya sama saya, Boby tidak sama dengan anak muda pada umumnya. Dia berbeda. Setiap hari kita cek, kalau bukan lagi buat tesisnya pasti dia lagi baca buku. Orang yang punya pengetahuan, mentalnya jauh lebih baik. Buktinya tadi dia tetap kerjakan tesisnya”.

Sambil mengusap kepala istrinya, Pak Cris kembali menenangkan istrinya dengan bercanda, “Boby bukan seperti saya yang dulu joget-joget sambil mabuk di pesta, gara-gara cemburu mama pergi selamatan natal dengan si Alex. Hahaha”.

“Ah, Papa ini. Salahnya papa sendiri dulu terlalu cemburuan. Padahal kami cuma teman dan hanya papa laki-laki yang saya cintai. Buktinya sekarang kita sudah menikah dan punya anak-anak hebat seperti Boby dan Isco”, jawab Ibu Sonya malu-malu.

“Ya sudah. Kita sebaiknya istirahat. Besok ada rapat pagi di sekolah”, ucap Pak Cris.

“Iya Papa, baik.”

***

Tiga Bukan Kemudian

Sambil setengah berlari menuju kearah bagian depan gedung Pascasarjana, dimana Boby dan adiknya Isco sedang berfoto. Carles dan Niko membawa bunga plastik ditangannya masing-masing. Hari ini Boby telah melaksanakan ujian Tesisnya dan berhasil meraih gelar Magisternya dibidang Lingkungan. Carles dan Niko adalah sahabat karib Boby, yang juga merupakan teman angkatannya di Prodi Ilmu Lingkungan Pascasarjana Undana. Usia Niko dan Carles lebih tua empat tahun dari Boby. Niko telah lebih dulu melaksanakan ujian tesisnya tiga hari yang lalu, sedangkan Carles dijadwalkan ujian tesisnya diminggu berikutnya setelah Boby.

“Boby. Selamat ya kawan. Akhirnya kau berhasil”, ucap Niko sembari menyalami tangan Boby yang kemudian diikuti Carles.

“Wah, terima kasih banyak abang-abang berdua. Bang Carles, semangat untuk minggu depan”, ucap Boby dengan senyum lebar.

“Siap. Terima kasih juga Boby. Tapi nanti bantu saya  ya, kita diskusi soal tesis saya supaya lebih matang nanti”, jawab Carles.

“Siap. Kalau perlu, sebentar malam kita kumpul di kost bang Niko untuk diskusi”.

“Siap-siap”, jawab Niko dan Carles serentak.

                Setelah foto bersama, Boby dan teman-teman serta adiknya menuju ke kantin untuk merayakan hari bahagia itu dengan menyantap pisang goreng dan meminum kopi. Terlihat dari wajah Niko, ia sangat mengagumi Boby. Seperti yang digambarkan Pak Cris, Boby memiliki mental yang amat kuat diusianya sekarang. Niko dan Carles kebetulan memiliki masalah serupa saat usia mereka seperti Boby. Tetapi Niko dan Carles tidak sekuat Boby. Waktu Niko mengalami masalah seperti Boby, Niko memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya, dan memilih mengasingkan diri di Papua. Carles menjadi lebih temprament dengan selalu membuat kegaduhan di Kota. Tetapi Boby tetap konsisten dengan dirinya. Seolah Boby tidak punya masalah.

“Boby, saya salut dengan dengan kamu. Saya tahu bagaimana perasaanmu waktu pisah dengan kekasihmu hanya karena kamu belum bekerja. Tetapi kamu tetap konsisten dengan tugasmu sebagai mahasiswa”, ucap Niko memberi pujian.

“Hehehe, abang terlalu memuji. Bukankah memang seharusnya kita tetap bertanggung-jawab dengan setiap kepercayaan? Dan bukankah kita tidak seharusnya mencapurkan semua masalah?”, jawab Boby sembari memberi pertanyaan.

“Ya Boby, betul. Tetapi tidak semua orang mampu berpikir jernih dan mengontrol emosinya disaat ada masalah. Apalagi diusia yang masih sangat muda”.

“Saya paham abang. Tetapi mereka yang tidak mampu berpikir jernih dan mengontrol emosinya disaat ada masalah, harus dibenarkan?”, tanya Boby lagi.

“Jelas tidak Boby”, jawab Niko.

“Ya. Saya hanya berupaya untuk tidak melakukan kesalahan terus-menerus abang. Saya sudah salah membangun cinta saya, maka saya tidak boleh salah lagi dengan mengabaikan tanggung-jawab saya sebagai mahasiswa”, jawab Boby dengan senyum.

Niko hanya mengangguk tanda menerima jawaban Boby. Setelah menyulut api pada rokoknya, Niko kembali bertanya kepada Boby.

“Boby, menurut kamu apakah semua ini rencana Tuhan yang terbaik untuk dirimu?”

“Hehehe memangnya menurut abang apa rencana Tuhan itu?”

“Hal-hal yang terjadi pada setiap manusia. Baik atau buruk bagi kita, tentunya itu rencana Tuhan dan rencana Tuhan sudah pasti baik adanya”, jawab Niko.

“Saya sepakat dalam beberapa hal. Tetapi bagi saya, rencana Tuhan Cuma satu. Tuhan menghendaki adanya penunjukan terhadap eksistensinya. Eksistensi Tuhan hanya bisa diketahui apabila ada kehidupan dengan tingkat kesadaran maksimal atau dalam Buku Filsafat Lingkungan yang ditulis oleh Alexander Sonny Keraf, dikenal sebagai proses mental tingat kedua yang hanya mampu dialami oleh manusia. Manusia sadar kalau dia sadar, adalah hal yang membedakannya dengan mahkluk hidup lainnya. Akal budi manusia membantu manusia untuk berpikir dan kemudian menyadari bahwa Tuhan itu ada. Sehingga bagi saya rencana Tuhan hanyalah adanya sebuah kehidupan demi eksistensinya diketahui”, jawab Boby menjelaskan.

“Berarti menurut kamu, hingga kamu sampai dititik ini bukan dari rencana Tuhan?” tanya Niko lagi.

“Ya. Pertama, gelar yang saya miliki adalah ciptaan manusia. Kampus yang saya pakai belajar juga ciptaan manusia. Ciptaan manusia muncul dari idenya sebagai manusia, bukan ide Tuhan. Setiap apa yang diidekan manusia, baik ide negatif maupun ide positif tidak melewati restu Tuhan. Tuhan hanya memberikan pedoman hidup lewat ajaran agama dan mengamati setiap ide manusia. Yang baik akan diberkati dan yang buruk akan dihukum pada hari penghakiman”, jawab Boby.

“Saya mencoba pahami maksudmu Boby. Tetapi saya agak kesulitan”, jawab Niko.

“Begini abang, kegagalan dalam kuliah apakah kehendak Tuhan? Atau kasus bunuh diri di jembatan Liliba apakah kehendak Tuhan? Pemerkosaan, penindasan, korupsi, atau pembunuhan apakah kehendak Tuhan?”, tanya Boby.

Niko terdiam beberapa detik kemudian bertanya lagi.

“Menurutmu bagaimana Boby?”

“Jelas itu bukan kehendak Tuhan. Jodoh, umur, pekerjaan, perilaku dan tindakan bagi saya bukan kehendak Tuhan. Tetapi kompleksitas dari proses kehidupan yang dijalani setiap manusia lewat kemampuan berpikirnya. Bisa karena faktor dari diri sendiri maupun faktor dari luar. Seseorang yang meninggal karena penyakit disebabkan oleh kegagalan proses metabolisme dalam tubuhnya. Kegagalan proses metabolisme disebabkan oleh virus penyakit. Virus penyakit muncul oleh kesalahan kita yang tidak menjaga kesehatan atau kesalahan orang tua yang tidak lihai merawat anaknya sejak dalam kandungan atau datangnya virus tanpa kita ketahui. Maka muncul kata hati-hati, sebab Tuhan tidak mengontrol itu. Kesalahan kita tidak bisa menjaga kesehatan atau Kesalahan orang tua disebabkan kurangnya pegetahuan. Maka untuk meminimalisir kesialan adalah belajar. Pengetahuan adalah fondasi dasar untuk mampu menopang sekaligus mengontrol proses kehidupan, misalnya ilmu agama, ilmu kesehatan atau ilmu psikologi dan lain-lain. Sebab pengetahuan akan mendikte cara berpikir”, jawab Boby.

“Bagaimana dengan jodoh”, Niko kembali bertanya.

“Menurut abang, apa itu jodoh?”, Boby bertanya balik.

“Pasangan hidup yang Tuhan takdirkan menikah dengan kita”, jawab Niko.

“Kalau demikian definisinya, mengapa ada perceraian setelah pernikahan? Apakah itu rencana Tuhan?”, Boby kembali bertanya.

“Ya mungkin itu yang terbaik bagi Tuhan”, jawab Niko.

“Maka kesimpulannya orang yang kita nikahi bukan rencana Tuhan, tetapi rencana saya dan dia serta keluarganya atas dasar kesepakatan. Kalau tidak sepakat, maka tidak menikah walaupun saling mencintai. Membangun cinta adalah proses berpikir manusia. Menikah adalah hasil berpikir manusia dan perceraian juga hasil berpikir manusia. Bukan hasil pikiran Tuhan”, pungkas Boby.

“Ya. Saya mulai paham maksudmu Boby. Saya mau bertanya lagi, menurutmu apa itu cinta dan mengapa orang patah hati saat putus cinta?”

“Agak sulit saya definisikan, tetapi saya mencoba abang. Cinta itu diawali dengan rasa kagum, suka, atau tertarik. Baik suka fisik maupun psikis. Tetapi untuk sampai kepada mencintai tidak berhenti ditahap suka tadi. Cinta dibangun terlebih dahulu dengan pengetahuan. Menurut Leonardo da Vinci cinta adalah proses mental paling tinggi, dimana tidak saja melibatkan akal budi melainkan juga nurani kita sehingga tidak ada syarat dalam mencintai. Kalau mencintai karena dia tampan, cantik, atau pekerjaannya bagus itu bukan cinta. Cinta tidak mengenal untung dan rugi, yang mengenal untung dan rugi adalah proses berdagang. Cinta itu bukan hanya tentang hubungan laki-laki dan perempuan. Cinta kepada Tuhan, cinta kepada orang tua, cinta kepada saudara, cinta kepada teman dan cinta pada kehidupan. Takaran cinta itu tidak ada, sebab cinta itu murni. Yang kemudian membuat kita lebih memilih orang tua ketimbang pacar adalah proses berpikir dengan analisis balas budi. Disaat kita dikasih dua pilihan orang tua yang susah atau pacar yang susah, langkah pertama yang kita lakukan adalah berpikir bagaimana keduanya bisa seimbang agar keduanya tidak susah. Kalau pada akhirnya kita memilih orang tua, itu disebabkan keterbatasan kita menentukan jalan keluar. Tetapi pada dasarnya, kita tidak menginginkan orang tua atau pacar kita susah. Itulah sebabnya setiap hukum agama yang pertama adalah cinta kasih”, jawab Boby.

“Apakah hal itu yang membuat kamu putus cinta Boby?”, tanya Niko lagi.

“Tepat sekali abang. Saya tahu mantan pacar saya tidak menginginkan saya susah hati. Dia juga sedih dengan perpisahan kami. Dia menangis saat memutuskan hubungan kami. Tetapi keterbatasan psikis saya dan dia untuk mencari jalan keluar membuatnya terpaksa memutuskan hubungan kami. Keluarganya tidak menginginkan saya sehingga dia berada dalam situasi yang dilematis. Saya tahu bagaimana susah hatinya dalam situasi itu. Tetapi dia harus menentukan kenyamanan dirinya dan keluarga. Hubungan dengan saya bisa dipisahkan tetapi  tidak mungkin dia pisah sama keluarganya. Ditambah lagi kekurangan yang saya miliki, bukan berarti dia tidak bisa menerima kekurangan saya. Dia sudah banyak melihat kekurangan saya dan menerimanya. Tetapi pada satu titik, mungkin dia sudah tidak bisa. Bukan karena dia tidak baik, tetapi saya yang tidak cukup pandai memperlakukan dia. Jadi ini bukan kesalahan dia, tetapi lebih banyak kesalahan saya. Seharusnya kalau saya serius ingin menikahinya, dari awal saya sudah berpikir bagaimana merespon keinginan keluarganya. Keinginan mereka sangat positif. Mereka menginginkan saya bekerja supaya secara materi saya bisa menikah dengan dia, sebab itulah tantangan nyata dizaman ini, usia mantan pacar saya sudah 25 tahun dan belis orang manggarai tidaklah mudah”, jawab Boby dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.

Niko menghampiri Boby dan merangkulnya sambil berkata,” Lalu apa rencanamu selanjutnya Boby? Kamu sudah menyelesaikan studimu, maka kamu sudah bisa bekerja. Saya dengar Prof. Fred memintamu mengajar di kampus ini. Apa setelah kamu bekerja, kamu kembali mencari mantan pacarmu?”

“Itu diluar kontrol saya abang. Mungkin saja saat ini mantan pacar saya sudah menemukan orang yang lebih baik dari saya. Dia orang baik dan sangat bisa diandalkan maka dia layak untuk mendapatkan yang lebih baik. Saya fokuskan saja dulu untuk bekerja dan lebih banyak belajar untuk bisa melanjutkan program Doktor saya. Hal itu yang bisa saya kontrol. Selebihnya, biar waktu yang menjawab setiap usaha saya”, jawab Boby sambil mengusap air matanya.

“Maafkan saya Boby, tetapi boleh saya tahu bagaimana kamu menyikapi perpisahan kalian?”, tanya Niko lagi

Setelah meneguk kopinya, Boby mulai menjelaskan, “Ini soal keinginan dan kebutuhan abang. Waktu saya mengenal dia, saya menginginkan dia. Di fase itu, sy tidak terpengaruh dengan ketidak-hadirannya dalam hidup saya. Tetapi setelah saya menjalin hubungan dengan dia, difase itu dia sudah menjadi kebutuhan psikis saya. Semua suka dan duka harus saya bagikan dengan dia. Kalau ada masalah, dengan mendengar suaranya sudah cukup untuk membuat saya berpikir lebih jernih. Kehadirannya sangat berarti bagi saya. Oleh kar ena itu, disaat dia tidak hadir lagi saya sangat merasa kehilangan. Sangat mempengaruhi hidup saya. Dulu, kalau saya susah hati dalam hal-hal kecil, selalu ada dia yang mendampingi saya. Tetapi sekarang, disaat saya susah hati yang sangat menyiksa, dia  tidak lagi ada bersama saya. Sebab masalahnya saya kehilangan dia. Kemudian ada semacam energi besar yang muncul dalam diri saya, seperti yang abang mereka pernah alami. Abang yang dulu tidak pernah berpikir untuk pergi jauh ke Papua, tetapi energi itu membuat abang berani melangkah kesana. Atau orang yang dulu tidak suka minuman keras, bisa mabuk setiap hari. Ya energi itu terlalu besar. Tetapi ketika energi itu muncul, saya berusaha arahkan ke hal yang positif. Saya yang dulu lemah dalam belajar, akhirnya mampu menguasai beberapa bidang ilmu, termasuk berhasil mengerjakan tesis saya yang awalnya saya pikir berat. Bahkan abang sendiri tahu, saya sangat lemah dalam hitungan. Tetapi karena energi itu, pengalaman mengajar pertama saya kepada mahasiswa, adalah mengajar ilmu statistik”.

“Ya betul, saya akui itu. Tetapi apakah sekarang dia masih menjadi kebutuhan psikismu?”, tanya Niko lagi.

“Tidak lagi abang”, jawab Boby.

“Bagaimana kamu bisa sampai ketahap itu?”

“Itu soal kebiasaan abang. Memang awalnya berat, tetapi karena saya sudah semakin terbiasa dengan ketidak-hadirannya, maka setiap hari saya akhirnya terbiasa sendiri. Oleh sebab itu, dia tidak lagi menjadi kebutuhan psikis saya”, jawab Boby dengan tatapan kosong.

“Berarti dia tidak lagi mejadi kebutuhan psikis tapi kembali menjadi keinginan psikismu atau sudah ada wanita lain yang menjadi keinginan psikismu saat ini? Hahaha”, pungkas Niko sambil tertawa.

“Hahaha bisa dibilang begitu abang”, jawab Boby sambil tertawa.

Carles dan Isco yang dari tadi menyimakpun ikut tertawa.

“Memangnya Boby punya gebetan baru?”, tanya Carles pada Isco.

“Sepertinya abang. Saya sering tidak sengaja lihat notifikasi Istagram dan whatsapp di handphonenya. Abang Boby tidak pernah chatingan dengan wanita manapun, kecuali orang yang dia sudah kenal dekat. Kalau bukan orang dekat, sudah dipastikan dia tertarik dengan wanita itu hahaha”, jawab Isco sambil tertawa.

“Hahaha untuk saat ini, biar itu jadi privasi saya dulu. Suatu saat saya pasti ceritakan. Jangan omong-omong soal itu, abang malu ini”, jawab Boby sambil merangkul adiknya.

Mereka berempat pun tertawa terbahak-bahak.

BERSAMBUNG

 

 

 

 

Komentar

  1. Gak ada kelanjutannya kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebelumnya terima kasih sudah membaca ya. .besok di cek kembali lagi ya. .nnti malam sy upload. .selama ini sy cukup sibuk, jadi sdh lama tdk menulis๐Ÿ™

      Hapus
    2. ๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berbicara Ringan tentang Cinta

Sepenggal Kisah Ratapan Dalam Pengharapan