Percakapan di Kamar Kos Nomor 7- (Boby-Episode 2)

 

Percakapan di Kamar Kos Nomor 7

(Boby-Episode 2)



Oleh :  Apolonaris S.B.O. Muda

 

Malam di Kota Kupang bergerak lambat. Hujan turun tipis-tipis, menempel di seng-seng atap rumah dan kos-kosan sekitar kampus. Angin yang biasanya panas membawa debu dari jalanan kini terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu kamar kos Niko masih menyala. Di atas meja belajarnya bertumpuk buku, jurnal, lembar revisi tesis, gelas kopi yang belum dicuci, dan beberapa bungkus mie instan yang menjadi saksi hidup mahasiswa tingkat akhir.

Kamar itu tidak besar. Hanya ada satu tempat tidur, sebuah kipas angin tua, meja kecil, dan tikar lusuh yang digelar di lantai. Malam itu empat orang berkumpul. Niko, Charles, Amandio dan Boby.

Mereka adalah mahasiswa S2 Ilmu Lingkungan Universitas Nusa Cendana. Niko dan Amandio telah menyelesaikan ujian tesis mereka beberapa minggu lalu. Boby baru saja menyelesaikan ujian Tesisnya sehari sebelumnya. Tinggal Charles yang tersisa. Besok lusa ujian tesisnya akan berlangsung. Judul tesisnya: “Demokrasi Elektoral dan Keadilan Ekologis: Analisis Politik Sumber Daya Alam dalam Perspektif Environmental Governance.”

Charles duduk bersandar ke dinding sambil memegang lembar presentasi.

“Aduh,” katanya sambil mengacak rambutnya,

“semakin dibaca saya makin bingung.”

Niko tertawa kecil.

“Kau terlalu tegang.”

Amandio mengambil kerupuk dari plastik.

“Yang penting kalau dosen tanya jawab saja pelan-pelan.”

Charles menggeleng.

“Bukan itu.”

Ia menoleh ke Boby.

“Yang saya takut itu dia.”

Semua tertawa.

Boby mengangkat alis.

“Saya?”

“Iya kau.”

“Kenapa?”

“Karena kalau saya bisa lolos dari dosen, belum tentu saya lolos dari pertanyaanmu.”

Boby tersenyum tipis.

Ia duduk di dekat jendela sambil membaca lembar abstrak tesis Charles.

Di kelompok mereka, Boby memang berbeda. Usianya lebih muda. Tetapi ketika berbicara, sering kali seperti dosen tamu yang lupa pulang. Cara berpikirnya tajam. Kadang terlalu tajam dan itu sering membuat teman-temannya kesal.

Beberapa detik ruangan menjadi tenang. Hanya terdengar suara hujan. Lalu Boby menaruh lembar tesis itu.

“Baik. Anggap saya penguji.”

Charles menarik napas panjang.

“Silakan.”

Boby menatapnya.

“Dalam penelitianmu, kau mengatakan demokrasi gagal menghadirkan keadilan ekologis.”

“Iya.”

“Kenapa gagal?”

“Karena demokrasi hari ini terlalu berorientasi pada suara mayoritas dan kepentingan ekonomi jangka pendek.” Jawab Charles

“Lalu?”, sanggah Boby.

“Akibatnya lingkungan sering dikorbankan.” Charles menjawab dengan lantang.

Boby mengangguk pelan.

“Terlalu normatif.”

Charles mengernyit.

“Maksudnya?”

“Semua orang bisa bilang itu.”

Ruangan mulai sunyi. Niko berhenti makan. Amandio ikut memperhatikan. Boby kembali bertanya.

“Sekarang saya tanya begini. Apakah demokrasi gagal melindungi alam...”

Ia berhenti sejenak.

“Atau sejak awal demokrasi memang tidak pernah dirancang untuk melindungi alam?”

Ruangan langsung diam. Charles menatap Boby. Beberapa detik. Lima detik. Sepuluh detik. Tidak ada jawaban. Hujan di luar semakin terdengar jelas.

“Apa maksudmu?” tanya Charles pelan.

Boby menyandarkan punggungnya ke tembok.

“Kita selalu bilang demokrasi gagal. Tapi gagal dari standar apa? Demokrasi modern lahir untuk mengatur hubungan manusia dengan manusia. Ia bicara hak manusia. Ia bicara suara manusia. Ia bicara kebebasan manusia. Tapi sejak kapan demokrasi bicara hak sungai? Sejak kapan demokrasi bicara hak hutan? Sejak kapan demokrasi memberi kursi parlemen kepada gunung?”

Charles diam. Niko ikut mengernyit. Amandio berhenti mengunyah. Boby melanjutkan:

“Masalahnya bukan demokrasi yang gagal. Mungkin masalahnya adalah kita meminta demokrasi mengerjakan sesuatu yang sejak awal tidak pernah dia desain.”

Ruangan menjadi semakin sunyi.

Charles memandang lantai.

“Berarti…”

Ia mengangkat kepala.

“Berarti selama ini saya salah?”

Boby menggeleng.

“Bukan. Justru sekarang kau mulai menemukan masalah sebenarnya.”

Charles menatap Boby.

“Lalu jawabannya apa? Kalau memang demokrasi tidak didesain melindungi alam, lalu apa yang harus dilakukan?”

Kali ini Boby tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke jendela. Di luar, hujan turun pelan. Lampu-lampu jalan terlihat samar. Lalu ia berbicara.

“Kita harus memperluas makna demokrasi.”

“Bagaimana?” Tanya Charles

“Demokrasi tidak boleh hanya mewakili manusia yang hidup hari ini. Ia harus mulai mewakili yang belum lahir. Ia harus mewakili sungai. Ia harus mewakili hutan. Ia harus mewakili ekosistem.”

Niko tertawa kecil.

“Jadi pohon ikut pemilu?”

Boby ikut tersenyum.

“Bukan begitu. Tetapi harus ada mekanisme politik yang memastikan kepentingan ekologis ikut dipertimbangkan. Kalau tidak…”

Ia menoleh kepada mereka.

“Demokrasi akan menjadi mesin legal untuk menghancurkan masa depan.”

Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi. Charles menunduk. Ia tampak berpikir keras. Beberapa menit berlalu. Kemudian ia tertawa pelan.

“Sial.” Ucap Charles

“Apa?” Tanya Boby

“Saya baru sadar.” Jawab Charles

“Sadar apa?” Boby kembali bertanya

Charles menghela napas.

“Selama ini saya sibuk mencari jawaban. Ternyata saya bahkan belum menemukan pertanyaannya.”

Niko tertawa keras.

“Habislah kau kalau Boby jadi penguji besok.”

Mereka semua tertawa, suasana kembali mencair. Malam semakin larut. Jam di dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Di atas tikar, buku-buku berserakan dan kopi sudah dingin. Tetapi pembicaraan mereka justru semakin hidup. Mereka berbicara tentang politik, tentang hutan, tentang masyarakat adat, tentang masa depan, tentang kampus dan tentang kehidupan. Sampai tanpa sadar hujan mulai berhenti.

Charles merebahkan badan ke dinding.

“Terima kasih.”

Boby menoleh.

“Untuk apa?”

“Karena kau bikin saya sadar. Sadar bahwa tesis bukan soal menjawab pertanyaan. Tetapi soal menemukan pertanyaan yang tepat.”

Boby tersenyum tipis.

“Besok abang Charles pasti bisa.”

“Kalau tidak bisa?” Tanya Charles

“Tidak mungkin.” Jawab Boby

“Kenapa?”

Boby mengambil tasnya karena hari sudah hampir subuh. Ia berdiri, lalu berkata pelan:

“Karena orang yang mulai mempertanyakan cara dunia bekerja biasanya sudah setengah jalan menjadi ilmuwan.”

Mereka semua tertawa kecil. Satu per satu mulai bersiap pulang, berpamitan dengan Niko. Amandio lebih dahulu meninggalkan mereka. Tinggal Boby dan Charles di parkiran kos. Sebelum beranjak pulang, Charles memanggilnya.

“Bob.”

Boby menoleh.

“Kau pernah pikir lanjut S3?”

Boby diam.

Untuk pertama kalinya malam itu ia tidak langsung menjawab. Ia memandang keluar. Langit mulai terang. Di timur, cahaya matahari perlahan muncul. Lalu ia tersenyum kecil.

“Pernah.”

“Di mana?”

“Ilmu Lingkungan.”

Charles tertawa.

“Di mana lagi?”

Boby mengambil tasnya. Lalu berjalan menuju pintu.

“Belum tahu. Masih ada satu hal yang mau saya cari.”

“Apa?” Tanya Charles

Boby berhenti beberapa detik, lalu menoleh.

“Mungkin…mengapa manusia bisa begitu pintar membangun peradaban, tetapi sering terlalu bodoh untuk menjaga rumahnya sendiri.”

Setelah mengatakan itu ia pergi. Charles berdiri memandang punggungnya yang semakin menjauh. Entah mengapa, untuk pertama kalinya malam itu, bukan tesisnya yang memenuhi pikirannya. Tetapi pertanyaan Boby. Dan jauh di dalam dirinya muncul perasaan aneh: Mungkin suatu hari nanti Boby benar-benar akan melanjutkan S3. Tetapi Charles merasa yang dicari Boby bukan sekadar gelar, melainkan sesuatu yang jauh lebih besar. Dan untuk pertama kalinya, pertanyaan itu membuatnya penasaran.

 

Bersambung…

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebesaran Hati Boby (Boby-Episode 1)

Berbicara Ringan tentang Cinta

Sepenggal Kisah Ratapan Dalam Pengharapan