Ratapan Anak yang Melihat Ibunya Dilukai
Ratapan Anak yang Melihat Ibunya
Dilukai
Hari ini
aku berdiri di tepi bumi,
mendengar suara yang tak lagi sama.
Hutan-hutan tak lagi bernyanyi,
angin tak lagi membawa doa-doa dedaunan,
dan sungai mengalir dengan luka di tubuhnya.
Aku
bertanya pada langit:
siapa yang mengajarkan manusia,
mencintai emas lebih dari mata air?
Siapa yang mengajarkan manusia,
menghitung untung dari tangis gunung-gunung?
Kulihat
perut bumi dibelah,
batu-batu tua diangkat dengan rakus,
tanah dicabik oleh tangan-tangan besi,
sementara pohon-pohon rebah
tanpa pernah sempat mengucapkan selamat tinggal
kepada burung yang pulang ke sarangnya.
Di mana
nurani itu bersembunyi?
Ketika sungai kehilangan jernihnya,
ketika ikan-ikan mati tanpa sempat memahami
mengapa rumah mereka menjadi racun,
ketika rusa-rusa berlari
mencari hutan yang tinggal kenangan.
Kita
menyebut diri makhluk paling sempurna,
tetapi kesempurnaan macam apa
yang dibangun dari reruntuhan kehidupan lain?
Apa arti kemajuan
jika ia tumbuh dari air mata
makhluk yang tak pernah mampu menggugat?
Alam
adalah Ibu.
Ia memberi tanpa menghitung.
Dari tubuhnya tumbuh padi,
dari dadanya mengalir sungai,
dari tangannya lahir buah-buahan,
dan dari napasnya kita meminjam kehidupan.
Tetapi
anak-anaknya telah lupa.
Kita
datang dengan alat-alat dan keserakahan,
membawa peta, kontrak, dan angka-angka,
lalu mengukur nilai kehidupan
dengan mata uang.
Padahal
Ibu tidak pernah meminta bayaran
saat memberi air untuk kita minum,
tak pernah menagih hutang
saat memberi tanah untuk kita pijak.
Hari ini
aku menangis diam-diam,
bukan karena bumi akan mati,
bumi mungkin akan tetap ada.
Yang
kutakutkan adalah:
manusialah yang perlahan kehilangan jiwanya,
karena terlalu jauh berjalan
hingga lupa jalan pulang
kepada Ibunya sendiri.
_Goresan Sementara_
Komentar
Posting Komentar